Seri Umroh : Pentingnya pendamping bagi lansia yang umroh

Pengalaman saat saya kemarin umrah 23 Mei – 31 Mei 2015, bahwa sangat penting pendamping bagi lansia yang melaksanakan ibadah umroh.

Saya mendampingi ayah saya yang usianya sudah 75 tahun, alhamdulillah bapak sehat, akan tetapi karena ini adalah pertama kalinya beliau terbang dengan pesawat, terlebih sampai ke luar negeri dalam jangaka waktu sampai 9 jam menempuh Jakarta – Jedah.

Tugas utama saya memang mendampingi bapak saya dalam umroh ini, kenapa lansia perlu pendamping?

1. Urusan TAS dan KOPER

Saaat umroh ini masing masing orang membawa tiga buah tas, yaitu Koper besar yang ada rodanya, yang sebagian besar berisai pakaian, yang kedua adalah tas punggung, yang ketiga adalah tas selempang kecil yang harus selalu dipakai karena berisi Passport dan Visa serta barang barang penting lainnya misal obat, tisu, HP, charger HP, kacamata, masker dll

Bagi orang yang pertama kalinya terbang, penting didampingi oleh yang sudah pernah terbang. Mulai dari scan tas dan barang barang sebelum masuk ke Lobby Bandara untuk menunggu pesawat. Mempersiapkan passport dan VISA.

Saya juga selalu membawakan tas gendong milik bapak saya, sehingga saya membawa dua tas gendong dan satu tas selempang. Pernah sekali saya lupa tas bapak saya, padahal saya sudah naik pesawat, ini terjadi saat perjalanan pulang dari Jakarta menuju Jogja, akhirnya saya harus lari lari mengambil tas milik bapak, yang untungnya masih ada dan tidak hilang.

2. Dalam Pesawat

Saat memasuki pesawat, bagi yang belum pernah tentu juga akan rada bingung untuk mencari kursinya, biasanya memang sudah diarahkan oleh pramugari untuk lewat lorong yang mana, tapi kadang antara saya dan bapak, tidak sama lorong yang kami lalui, tapi tetap saja saya masih bisa melihat dan mengawai bapak, paling paling saya beritahu untuk terus jalan saja, sebab kebanyakan tiket pesawat umroh adalah tiket ekonomi, dan itu pasti ada dibagian paling belakang dari pasawat. Saat pertama kali naik pesawat, patuhi saja nomer tempat duduk yang tertera di tiket, nanti kalau mau tukar tukaran tempat duduk, bisa dilakukan setelah terbang beberapa menit dan kondisi sudah stabil, hal ini sering terjadi karena misal suami istri dari awal tidak jadi satu berdekatan, atau anak dengan bapak seperti saya kemarin.

Lanjut urusan ke TOILET PESAWAT. Walapun saya sudah beberapa kali naik pesawat, saya belum pernah memakai toilet, karena biasanya saya sebelum terbang memastikan ke toilet dulu, lagi pula pengalaman terbang saya terdahulu hanya Jakarta-Jogja atau sebaliknya yang rata-rata memakan waktu satu jam. Berbeda dengan saat umroh, yaitu penerbangan langsung dari Jakarta ke Jeddah tanpa transit, sehingga berada di pesawat dalam waktu kurang lebih 9-10 jam, dan tentu saja membuang air kecil adalah hal yang normal dalam jangka waktu selama itu.

Pastikan kita pribadi tahu terlebih dahulu cara membuka pintu toilet pesawat, menutup dan menguncinya, lalu dimana harus buang air kecil, dimana kran airnya dan bagaimana metode untuk membuka kran tersebut, karena kemarin antara pesawat garusa dan airbus ternyata beda cara membuka kran air, lalu dimana tissu, dimana membuang tissu dan terakhir tentu bagaimana cara membuka pintu toilet dari dalam toilet. Hal ini harus dipastikan dan dampingi dan jelaskan urut urutanya pada orang tua kita, jangan sampai karena tidak tahu, satu step pun.

Saat memakai pesawat Garuda, kita tidak terkendala dengan bahasa, karen semua pramugarinya orang Indonesia. Akan tetapi saat pulang saya memakai Singapura Airlines dengan pesawat Airbus ternyata pramugari bukan orang indonesia, dan mamakai bahasa inggris, sehingga disinilah pentinganya pendamping bagi lansia yang tidak bisa bahasa inggris, karena saat nanti ditawari makanan di pesawat oleh pramugari bisa susah, minta nasi daging, diberinya nasi lauk ikan.

3. Naik tangga berjalan dan LIFT

Bagi orang tua yang belum pernah naik tangga berjalan atau lift akan susah juga. Problem utama saat naik tangga berjalan adalah saat pertama kali menginjakkan kaki dan saat mau selesai, kadang hal ini bisa membuat jatuh, jadi sebaiknya tuntun orang tua kita saat mau menginjakkan kaki ke tangga berjalan dan saat mau keluar dari tangga berjalan, persiapkan diri kita untuk menahan tubuh orang tua kita seandainya terpeleset dan mau jatuh maka kita sudah siap menolong.

Saat naik LIFT memang harus diajari pelan pelan, dan saya sarankan tulis di selembar kertas atau buku kecil dan taruh di TAS selempang milik orang tua kita, yang ditulis adalah jalur dari kamar menuju masjid, dan sebaliknya. Misal dari kamar 825 (kamar lantai 8 nomer 25) menuju LIFT menuju ke LOBBY HOTEL, yaitu lobby Hotel kodenya R1, maka di LIFT nanti harus mencet tombol  R1, ajari juga orang tua kita melihat perjalanan LIFT dengan memperhatikan display yang menyala, nanti setelah R1 menyala dan pintu terbuka maka harus keluar, selain itu tidak boleh keluar. Dari Lobby Hotel harus naik LIFT lagi, yaitu LIFT besar menuju masjid, biasanya untuk masjidil Haram kodenya 0 (nol), maka nanti saat sudah 0 dan pintu terbuka maka harus keluar. Begitulah dan sebaliknya. Jalur ini penting ditulis dari nama hotel, nomer kamar, dan LIFT yang dipakai, antara lain nanti jika misal terpisah atau hilang, bisa menunjukkan kertas ini pada orang lain untuk bertanya dan berharap diberitahukan hotel dan lift yang harus dinaiki. Kebetulan saya kemarin menginap di Hotel yang ada JAM RAKSASA dekat Kakbah, dan hotel ini terdiri dari beberapa hotel, dan juga LIFT nya banyak sekali dan harus ganti lift untuk sampai ke kamar saya.

4. Dalam Ibadah

Kadang orang tua belum begitu paham mendalam dalam ibadah dan tata caranya juga hal hal yang tidak boleh dilakukan. Salah satu yang krusial dalam umroh adalah saat memakai pakaian ikrom, terutama bagi jamaah laki-laki. Jangan sampai saat sudah pakai pakaian ikrom tapi lupa misal celana dalam ternyata belum dilepas, atau masih pakai kaos. Juga larangan larang saat ikrom harus kita perhatikan, baik untuk diri sendiri atau kepada orang tua yang kita dampingi, jangan sampai misal lupa memotong kuku atau rambut saat masih memakai pakaina ikrom.

Pendampingan saat towaf juga penting, kalau rombongan biasanya yang ibu-ibu ditempatkan ditengah, lalu bapak bapak di sisi luar kiri dan kanan, karena saat towaf kondisi ramai bisa buyar dan hilang kalau tidak dibuat barisan seperti itu.

Saat sa’i juga penting orang tua didampingi agar terjaga selalu berada di rombongan dan tidak ketinggalan, dan memastikan melakukan sa’i dengan benar. Dimana saat berjalan, dimana tempat saat harus berlari-lari kecil, dst.

Dalam ibadah sehari hari yaitu sholat wajib berjamaah, kita juga harus dampingi orang tua agar tidak bingung, sebab pintu GATE di masjild haram dan di Masjid Nabawi itu ada banyak, dan kita harus hapal dari GATE mana kita datang sehingga nanti saat keluar tinggal mencari petunjuk arah menuju GATE tersebut. Untuk Masjidil Haram terasa agak sulit karena masjidnya melingkari Kakbah. Sedangkan di Masjid Nabawi lumayan agak enak karena bangunan masjid adalah kotak dan posisi nya bisa lebih pasti.

5. Menjaga Kesehatan.

Pentingnya pendamping bagi lansia tentu saja adalah soal kesehatan lansia, pastikan misal yang kita dampingi harus minum obat ini itu untuk menjaga kesehatan, maka hal tersebut jangan sampai lali. Pastikan juga cukup istirahat tidur, dan bangunkan jika saat waktu sholat wajib masih 30 menit lagi, karena untuk persiapan dan jalan kaki menuju masjid, bisa makan waktu sekitar 30 menit, kalau terlambat maka nanti akan padat dan belum tentu kebagian tempat di depan.

Demikianlan pengalaman saya kemarin mendampingi bapak saya umroh, semoga berguna bagi yang mau umroh terutama bagi lansia, atau yang kesehatannya kurang fit. Tapi bagi yang sehat yang muda juga jangan lantas sombong, bisa jadi nanti malah terbalik kondisinya di makkah atau madinah, yang muda malah sakit sakitan dan tidak kuat, sementara yang tua malah sehat dan kuat. Selalu istigfar dan selalu berprasangka baik pada apapun yang kita lihat adalah pilihan yang tepat.

Jika ada pertanyaan seputar hal diatas yang mungkin saya terlewat menuliskannya, bisa hubungi saya via kolom komentar, atau langsung via email saya hadiyanta@gamial.com

 

2 Responses

  1. bener Kang, terutama poin nomor 4 tuh.. kemarin bulan Pebruari apa Maret pas kesana bolak balik dimintai tolong orang nyasar… wkwkwk.

    dan kebetulan kemarin berangkat bareng 3 lansia, kakek nenek yang udah diatas 75 sama buyut yg udah seabad.

    tambahan : di transportasi selain pesawat, ketika naik bus dan turun bus,, kalo bisa jadi yang pertama biar g nyusahin jamaah yg lain karena membutuhkan waktu extra.. apalagi jalannya timik-timik, sekiranya diperkirakan memakan waktu lama (seperti pas ziarah), mending ngalahi gak ikut karena bisa jadi pas kita nyampe sana bawa orang tua, rombongan yang lain udah pada mau balik.

    trus bawa kursi roda, jadi pas umroh mereka gak terlalu kelelahan, beda ama orang tua dari turki atau pakistan yang makin tua malah makin lincah kayak ninja :v

    http://masdaniblog.com/2015/07/01/ngaku-petrol-head-sudah-nonton-roadkill-belum-bro/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: