Sugeng tindak bapakku

image

Pawartos Lelayu Bapak

Ternyata ini Ramadan terakhir bapak.

Innalillahi wa innaillaihi rojiuun. Bapak Tugiran meninggal jam 6:45 WIB, Ahad 19 Juni 2016 di RS SARJITO.

Insya Allah dimakamkan hari ini jam 16:00 WIB

Mohon dimaafkan semua kesalahan beliau.

Semoga khusnul khotimah.

Amin.

Sebelumnya saya ingin mengenang masa masa saya bersama bapak. Yang saya ingat saat kecil, bapak selalu mengajak saya jamaah maghrib dan isyak di masjid Al Muttaqin, masjid di dusun kami. Meskipun saat itu saya nakal sekali selalu minta mampir jajan diwarung utara masjid, tetapi bapak selalu saja mengajak saya ke masjid. Saya selalu digendong di belakang di punggung bapak. Saat besar ini saya sadari ternyata bapak memberikan saya filter iman dan islam dengan cara selalu mengajak saya ke masjid. Pada perkembangannya saya memang menjadi anak masjid dengan dan mendapat teman teman seusia di masjid seperti Andang, Aris, Bendot, Biyanto, Danang, Purwoko, Siut, Pardi dll. Terimasih bapakku, pendidikanmu ini membuat anakmu punya filter iman dan islam diera akhir jaman yang serba terbolak balik ini. Air terlihat seperti api, api terlihat seperti air, hanya dengan mata iman nur cahaya ilahi bisa membedakannya.

Satu lagi pelajaran berharga dari bapak, yaitu bapak mengajarkan saya untuk menyambung silaturahmi, dengan sepeda ontanya saya kadang bonceng di planthangan kadang di boncengan, sering banget pantat dan kaki saya memjadi gringgingen. Bapak selalu mengajak saya silaturahmi saat lebaran ke rumah family, terutama di Tebon, dan di Dongkelan jalan godean barat Berjo. Ternyata tanpa saya sadari saya memang menyukai silaturahmi, terimakasih bapakku.

Saat saya kelas 3 SMP bapak beli motor astrea star, ini tahun 1988, entah itu bapak beli untuk bapak sendiri, atau belikan saya, tapi pada akhirnya sayalah yang pakai, bapak lalu tetap dengan sepeda ontanya untuk ke SD KEDUNGPULE dekat Museum Soeharto. Untuk yang satu ini saya merasa bersalah pada bapak karena seperti menange dewe merebut motornya bapak. Motor ini saya pakai sampai kuliah tahun 1997 nan saya jual untuk beli komputer karena saya rasa lebih baik saya punya komputer dan punya ilmu tentang komputer, besok motor bisa beli lagi, alhamdulillah saya sudah buktikan ke bapak, bisa punya motor kharisma, beat, pulsar dan PCX.

Doa saya dulu sebelun dapat pekerjaan adalah mendapat pekerjaan yang baik bagi saya, orang tua saya dan masa depan saya dunia akherat, alhamdulillah akhirnya setelah setahun dari lulus S1, saya mendapatkan pekerjaan di Jogja. Tidak perlu keluar jogja, ini artinya saya bisa tetap dekat dan menjaga bapak dan ibu saya.

Bahkan saat saya membeli vantrend, itu semata mata tujuan utama demi bisa untuk jaga jaga bapak ibu kalau minta diantar kondangan, kalau kalau sakit mendadak, dll dan hal tersebut memang terbukti. Jadi punya mobil memang sebatas kebutuhan.

Bapak saya, TUGIRAN, telah berpulang kehadirat Allah SWT pada bulan romadhon 1437 H ini, bapak mulai merasa kurang sehat sekitar 40 hari yang lalu, saat itu beliau ikut acara budaya tahlilan di tempat saudara, bapak sudah tidak mau makan.

Lalu berangsur kesehatan bapak menjadi semakin turun, bapak jadi selalu pingin tidur di teras rumah bapak, rumah yang saya tempati saat ini, sedang bapak dan ibu menunggu rumah adik saya yang kosong. Sampai akhirnya saya dan istri, belikan bapak tempat tiduran dari bambu yang bisa diatur naik turun pada bagian kepala, agar bapak merasa nyaman tiduran di teras rumah, bapak bilang pingin melihat pepohonan yang segar disekitar rumah. Bapak lumayan masih senang bercerita cerita, dan saya sengaja rekam video pas bapak cerita, karena feeling saya saat itu kok kayaknya harus merekan bapak untuk kenangan.

Bapak juga sempat bilang ke saya bahwa rumah bapak yang saya tempati ini kalau ada yang rusak rusak, saya disuruh memperbaiki, padahal selama ini bapak yang memperbaiki rumah jika ada yang rusak. Rumah ini dibuat pada 1Juni 1980, jadi sudah 36 tahun.

Pada perkembangannya kesehatan bapak makin menurun lagi, hingga bapak bilang tidak kuat berjalan sampai teras rumah depan. Lalu bapak digelarkan springbed di kamar tamu rumah adik yang ditinggali bapak.

Ternyata para tetangga sudah pada tahu kondisi bapak, dan beramai ramai rombongam pada jenguk bapak, bapak sempat pesan ini itu tentang pengajian yang selama ini bapak rintis dan asuh. Disini saya sudah merasa ada pertanda dari bapak.

Pakdhe Parno pas jenguk bapak juga diberi pesan oleh bapak, bahwa pralon pengairan di sawah harus dipasang begini begini. Satu pertanda lagi.

Paklik saya juga diberi amanat buku catatan bapak tentang pembuatan masjid Al Muttaqin yang bangunan pertama. Bapak juga minta maaf kepada paklik. Pertanda lagi.

Akhirnya pada tanggal 14 Juni 2016, bapak opname di RS SARJITO di Melati 5B, kami bergantian tiga shift nunggu bapak, ada adik adik bapak, keponakan, mantu, dan tentu kami anak anaknya, saya kebagian nunggu pada tanggal 18 Juni 2016, sabtu jam 19.

Tanggal 18 Juni 2016, pagi jam 7:30 saya bawa ibu jenguk bapak, saat itu bapak terlihat sudah makin menurun, tapi tadi pagi sudah makan jenang hampir habis, kakak saya anaknya mbokdhe yang ndulang bapak, saat kami datang, bapak terlihat tidur, tapi ternyata bapak terbangun mendengar kedatangan kami, lalu ibu masih sempat menyuapi sisa jenang yang tadi belum habis, saya sendiri sempat memberikan secendok madu kepada bapak. Jam 8 lebih sedikit saya, ibu dan mas saya pulang. Bapak ditunggu paklik saya yang rumahnya persis timur rumah bapak.

Jam 15:50 ada WA dari adik saya perempuan yang kebetukan dokter umum dan ternyata tidak pulang dari tadi pagi ikut menjaga bapak, agar saya segera ke Sarjito, lalu saya pun segera meluncur bersama istri ke RS Sarjito. Kondisi hujan deras di rumah, saya pakai matrol tapi hujan reda, dan mulai hujan lagi di perempatan ringroad Demakijo, ternyata hujan bertahan sampai pagi, dan ternyata ada bencana longsong di Purworejo yang banyak menimbulkan korban jiwa.

Jam 17:15 kami sampai di RS, tapi kami tidak boleh masuk kamar karena sedang ada tindakan. Akhirnya saya dan istri ke masjid As Shifa RS Sarjito untuk buka minta nasi kotak di masjid.

Jam 20:15 saya dipanggil masuk adik saya, saya langsung diberitahu kondisi bapak menurun dan saya diminta minta maaf, lalu saya ajak bapak bicara dan minta maaf kesalahan saya, istri dan anak anal saya, bapak juga malah gantian minta maaf pada saya, jadi nangis saya, tapi plong.

Ternyata adik saya yang di Tegal, sebelumnya sudah telp minta maaf melalui telpon.

Habis saya, lalu istri saya gantian masuk untuk minta maaf ke bapak, saat itu bapak hanya jawab tanda ya. Lalu bapak makin menuru, tidak lagi mau bicara.

Sampai menjelang jam 03:30 saya dan adik saya gantian menjaga bapak, banyak sekali obat obatan yang diinfuskan ke bapak, semua usaha maksimal sudah dilakukan. Saya tidak lupa selalu mengajak bapak istigfar, dan syahadat meskipun bapak tampaknya sudah dalam kondisi koma.

Sehabis sahur yang saya beli di food court sisi depan Sarjito, saya dan istri ke masjid untuk sholat shubuh, lalu balik lagi ke depan kamar bapak.

Jam 05:23 adik saya memanggil untuk masuk, kondisi bapak sudah sangat menurun, lalu bapak diberikan pemicu jantung dengan cara ditekan tekan pakai tangan dan dihembuskan angin dengan alat seperti balon dipejet manual. Lalu saya keluar dan hanya adik saya yang menunggu.

Akhirnya jam 7:07 adik saya memanggil saya, ternyata bapak telah berpulang jam 6:45 WIB tadi.

Innalillahi wa innaillaihi rojiuun.

Beruntung sebelum meninggal tadi, ibu masih bisa ketemu bapak terakhir kalinya, tadi ibu pagi-pagi dibawa suaminya adik saya dari rumah.

Akhirnya Ibu dan Istri saya, kami minta pulang dulu, lalu saya dan adik ipar menunggu jenazah bapak sampai jam 9 untuk disucikan di rumah sakit. Adik saya mengurus administrasi.

Saya dan suami adik saya ikut memandikan jenazah bapak di RS Sarjito, mengawasi pemakaian kain kafan, lalu adik perempuan saya yang bareng mobil ambulan menuju rumah. Saya dan suami adik saya pulang pakai motor masing masing.

Sekitar jam 11 siang saya sampai rumah, semua sudah dibantu sanak saudara dan tetangga, bahkan kuburan untuk bapak sudah selesai jam 11, dan eloknya lagi meski semalam hujan deras, tapi kuburan bapak kering tidak ada airnya, semoga semua kemudahan kemudahan ini pertanda khusnul khotimahnya bapak. Pembuatan makan bisa cepat karena mendapat tanah biasa, bukan tanah padas yang keras, tapi pemakaman bapak tetap sesuai rencana yaitu jam 16 WIB.

Suasanya mendung dan adem  tapi tidak hujan, bahkan tidak gerimis, ini dari saya tiba dirumah sampai selesai pemakaman jenazah bapak, semoga ini salah satu pertanda bapak khusnuh khotimah. Padahal kalau mengingat hujan semalam, rasanya kemungkinan pas pemakaman bapak bakal turun hujan, sangat bisa terjadi.

Jam 15:30 upacara pemberangkatan jenazah bapak dimulai, dan jam 16 selesailah pemakaman bapak saya.

Terimaksih kepada semua sanak saudara dan tetangga yang telah membatu kami yang tidak dapat kami sebut satu persatu, terimakasih kepada para takziyah yang telah melayat bapak mendoakan, menyolatkan dan beberapa sampai ikut ke keburan untuk memakamkan bapak.

Kami tahu bapak sudah merasa mongkok, senang, bangga pada pencapaiannya mendidik dan ngemong kami, kemarin saat sakit beliau punya keingingan untuk syukuran dengan nanggap karawitan kelompok beliau, sewa tenda dan kursi, ngundang tetangga, dan itu harus, kata bapak, semua biaya akan ditanggung bapak. Entah itu isyarat atau apa, ternyata memang bapak wafat dan akhirnya menyewa tenda kursi, tapi memang insya Allah keinginan bapak itu harus kami laksanakan kelak secepatnya.

Pengalaman paling berkesan dengan bapak adalah saya tahun lalu di bulan mei 2016 mengantar dan mendampingi bapak umroh, alhamdulillah bapak sehat tanpa sakit selama umroh dan sehabis umroh. Saya malah sakit seminggu setelah pulang umroh. Ibuk saya telah umroh tahun 2014 didampingi adik perempuan saya.

Bapak saya ini orangnya hampir tidak pernah marah, semarahnya bapak paling bilang SEMPRUL, begitu pada saya. Soal makan, bapak selalu makan dirumah, masakan sayur pakai santan, itu wajib bagi bapak. Kalau jajan diluar itu karena saya ajak saja. Sayangnya dulu bapak perokok tingwe, alias linting dewe, berhenti pada 26 Februari 2015, menjelang mau umroh sampai bapak wafat tidak lagi merokok.

Bapak itu orangnya slow, tanpa pikiran macem macem, semeleh, sehingga raut wajah beliau itu selalu tenang dan awet seperti itu.

Selamat jalan bapak, semoga Allah mengampuni dosa dosa bapak, semoga dijembarke kubure, diperlihatkan syurga yang bakal engkau singgahi nantinya bapakku. Amin.

image

Bapak pulang kenduri

image

image

Masjid Nabawi

image

Saya, bapak dan Om

image

image

image

Bapak dan adiknya caket

image

Saya, bapak dan mas Sukro di pelataran

image

Adik dan ibuk

image

image

Jabal Rahmat

image

Latihan

3 Responses

  1. Innalillahi wa innailihi rojiun
    Nderek belasungkawa mas

    Semoga Bp Tugiran diampuni dosa-dosanya, dimaafkan kesalahan-kesalahannya, dilapangkan kuburnya, dan diagungkan pahalanya. Aamiin..

  2. innalillahi wa innailaihi rojiun. Nderek belasungkawa pak hadi.

    mugi-mugi bp tugiran diampuni semua dosa-dosanya dan dilapangkan kuburnya,

  3. Innalillahi wa inna illahi rojiun, nderek belo sungkowo mas, Allahumaghfirlamhu, warhamhu, wa’fi’anhu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: