Budaya malu dan menghargai sesama pemakai jalan harus selalu dipupuk dan dipraktekkan

Pada kisaran tahun 2001, pemilik dan pengendara motor di Yogyakarta tentu tidak sebanyak saat ini. Saya tidak mempunyai angka pasti untuk membandingkannya, tetapi ini adalah pengalaman saya, karena sejak SMA tahun 1989 sudah naik motor ke sekolah, saat itu pakai Honda Astrea Star produksi tahun 1988, sehingga sampai sekarang saya lebih senang naik motor dari pada naik mobil, alasan praktis dan kecepatan menjadikan naik motor lebih menyenangkan bagi saya, bahkan sampai sekarang usia diatas 44 tahun, tiap hari saya rata-rata riding 100 km sampai 120 km.

Motor lengkap, riding gear lengkap, siap riding pula dengan tertib

 

Motor lengkap dan standar serta helm full face

Tentu saja dahulu orang jarang memakai helm, generasi seumuran saya pasti tahu yang namanya HELM CIDUK, tapi perlahan kampanye pemakaian helm yang baik dan aman digencarkan, sehingga ada helm Standard dan juga saya mulai mengenal Helm Cakil alias Helm Full Face. Saat SMA saya selalu pakai helm Full Face kemanapun pergi, ini gara-gara saya melihat di depan mata sendiri kecelakaan lalu lintas tabrakan motor sehingga mengakibatkan pengendaranya luka parah di kepala, ada pula tetangga saya yang hidungnya tergerus aspal gegara tidak pakai helm, dari situlah saya memilih tertib untuk memakai helm. Saat ini saya mengajarkan tertib memakai helm pada anak-anak saya, jadi kalau pagi saya antar pakai mobil, tetapi tetap bawa helm, karena saat pulangnya dijemput pakai sepeda motor. Kebetulan sekolahnya juga care terhadap siswa yang membawa helm, yaitu disediakan rak khusus untuk menaruh helm.

Motor Standard yang lengkap dengan helm Full Face

Saya pernah mendengar sendiri dari petinggi Astra Motor tentang perjuangan beliau bahwa setiap penjualan motor Honda, harus disertai dengan helm, seingat saya dulu ada helm TRX, lalu berkembang menjadi helm-helm yang semakin baik bentuknya. Jadi tidak heran kalau dijalanan banyak sekali orang naik motor memakai helm bawaan Honda, bahkan kadang naik motor selain Honda, helmnya tetap helm Honda, disinilah salah satu keberhasilan Astra Honda Motor dalam kepeduliannya terhadap konsumen pembeli sepeda motor Honda.

Memakai helm hanyalah salah satu dari tertib berkendara motor, tentu ada lagi yang lain, yaitu harus memakai jaket, memakai sepatu, malah kalau bisa yang sepatu bisa melindungi mata kaki, memakai celana panjang, memakai kaos tangan, protektor, minimal jika semua itu dipakai, maka kita akan lebih aman dalam berkendara motor, meminimalkan resiko kecelakaan parah jika misal terjadi kecelakaan. Karena bisa jadi kita sudah hati-hati, akan tetapi terimbas oleh kecerobohan dan ketidaktertiban pengendara lain, dan ini sering kali yang terjadi. Konyol dan menggemaskan.

Mayoritas wong Ngayojokarto tentu punya unggah ungguh, tepo seliro, punya adat budaya, malu jika berbuat melanggar hukum atau pranatan, ketika budaya tersebut diaplikasikan di jalan yang terjadi adalah bisa saling menghargai sesama pemakai jalan. Boleh dikatakan sebagian besar pengendara motor di Jogja ini tertib dalam berlalu lintas, akan tetapi tidak menampik jika ada oknum-oknum yang tidak tertib, misal keluar dari gang kecil menuju jalan besar langsung KLUWER, tidak mau berhenti dan menengok kekanan dahulu, sehingga sering timbul kecelakaan dari hal ini. Melanggar lampu merah, jalan di trotoar, berhenti tidak di marka yang seharusnya, dll.

Saat lampu merah, pilih berhenti di bawah rimbunan pohon agar tidak kepanasan, meskipun didepan masih lega, dan jarang ada pengendara dibelakang yang klakson klakson protes.

 

Uniknya Jogja, pilih berhenti di tempat yang teduh di bawah pohon beringin Gedung Agung, di depan adalah NOL KM.

Ada pula oknum pelanggar lalulintas yang seolah pinter mensiasati lampu lalu lintas, walau jelas-jelas sedang merah, tetapi melanggar dengan memanfaatkan waktu sekian detik sebelum yang hijau jalan. Kadang memang ada yang sengaja melanggar dan tidak merasa malu melakukannya. Akan tetapi ada juga yang unik di Jogja, kita akan bisa menemukan lampu bangjo ternyata masih jauh di depan sekitar 10 meter, tapi motor-motor sudah pada berhenti, ternyata saat siang panas menyengat, banyak pengendara motor yang pilih berhenti dibawah bayang-bayang pohon yang rimbun dan teduh, dan uniknya lagi hampir semua orang memaklumi hal ini dan tidak ada yang marah-marah misalnya membunyikan klakson secara terus menerus.

MALU, budaya ini masih lekat di Jogja, tapi pelahan akan terkikis juga kalau tidak kita pupuk dan kita praktekkan juga kita beri hukuman sosial dan hukuman legal bagi pelaku-pelaku pelanggar lalu lintas. Misal hukuman sosial bagi pelanggar lampu merah adalah kita sorakki dan hukuman bagi pelanggar lalu lintas yang menyebabkan celakanya orang lain adalah dengan malas menolongnya, artinya korban yang terimbas biasanya kita tolong dulu, sementara korban penyebab yang merupakan pelanggar awal biasanya kita biarkan, atau kalaupun kita tolong mesti dengan agak malas.

Teknologi selalu berkembang, begitupun media sosial, saat ini sangsi sosial bagi pelaku pelanggar lalu lintas, biasanya akan terexpose di media sosial terpopuler yaitu Facebook. Hampir tiap orang punya hp berkamera, maka jika kita melanggar aturan hukum dan tatanan sosial dan adat budaya, bisa banget kita akan difoto atau divideo oleh orang lain dan diupload di grup facebook, maka sangsi sosial dengan di hujat, dicaci dll akan diterima oleh pelanggar lalu lintas.

Gedung Astra Motor Safety Riding Centre di Jogja

 

Blogger koboys mengikuti kelas teori safety riding

 

Inspirasi 60 Tahun Astra yang menyentuh pondasi dasar dalam usaha tertib berlalu lintas adalah dengan berdirinya Astra Motor Safety Riding Centre di Jogja, sebab dari sini bisa terus dipupuk dan ditularkan kepada generasi muda khususnya tentang tata cara berkendara motor yang baik, benar, aman dan nyaman sesuai aturan. Budaya malu untuk melanggar hukum, budaya menghargai orang lain, pengendara lain di jalan bisa diajarkan terus menerus berkesinambungan. Ketertiban memang harus diajarkan, selalu dipraktekkan dan selanjutnya mendarah daging dan membudaya.

 

blogger koboys sebelum update tentang keselamatan berkendara di AMSRC Jogja

 

Latihan mengendarai kendaraan dengan baik dan benar memakai simulator seperti ini amat menyenangkan, walau tidak bisa dikatakan mudah juga

 

Menguasai Teori dalam safety riding juga diperlukan.

 

Simulator sepeda motor yang mengasyikan, menghibur, tetapi mendidik.

 

 

Praktek safety riding dengan baik dan benar di AMSRC Jogja

 

Lokasi praktek safety riding di AMSRC Jogja

 

Miris saat ini melihat anak-anak dibawah umur yang belum memenuhi syarat mendapat SIM yaitu 17 tahun, sudah naik kendaraan bermotor. Kesadaran dan peran orang tua tentulah menjadi pokok penentunya, jadi jika anak muda dilatih tertib berlalu lintas, maka untuk orang tua perlu diberikan kesadaran untuk tidak memberikan sepeda motor kepada anaknya yang belum punya SIM, karena bisa membahayakan orang lain, terlebih bagi anak itu sendiri.

Pelatihan safety riding gratis

Pelatihan Safety riding

Contact person Pelatihan Safety Riding di Astra Motor

Astra Motor sudah menempuh berbagai cara untuk mengkampanyekan tertib berlalu lintas, dan salah satunya melalui para blogger otomotif yang diajak mengikuti acara Pelatihan Safety Riding di Astra Motor Safety Riding Centre Jogja. Blogger diberikan pelajaran secara lengkap meliputi teori dan praktek langsung, setelah mengalami semua pelajaran dan pengalaman tersebut, maka blogger bisa berbagi dengan teman dan sahabat melalui blog masing-masing, melalu kanal youtube, instagram, twiter, dan tentu saja facebook, dengan demikian pesan-pesan keselamatan dan ketertiban berlalu-lintas ini menyebar dan semoga bisa mengajak pula para pembaca, teman dan sahabat para blogger untuk ikut pula mempraktekkan dalam keseharian tertib berlalul lintas.

Pencapaian yang tidak kalah hebat dari Astra Motor adalah program Mudik Bareng Honda, yang tujuan utamanya untuk lebih membantu para pemudik agar tidak riding membawa motor dari misal Jakarta ke Jogja dikendarai sendiri, bahkan kadang sampai 3 atau 4 orang boncengan satu motor yang tentu sangat tidak nyaman, dan sangat berbahaya. Astra Honda mengajak pemudik naik bis sampai tujuan, dan sepeda motornya diangkut truk tersendiri juga sampai tujuan pula, sehingga pemudik tinggal riding sebentar sudah sampai ke kampung halamannya untuk merayakan lebaran, bekumpul bersama sanak saudara, sungguh ini adalah Inspirasi 60 Tahun Astra yang membanggakandan sangat mendukung budaya lokal Jogja dan sekitarnya.

Mudik bareng honda

 

Mudik lebih menyenangkan bersama Astra

 

Bis Mudik Honda

 

Motor Mudik Bareng Honda sudah sampai dulu di tujuan

 

PR terbesar saat ini di jalanan jogja adalah masih adanya pelanggar lampu lalu lintas. Kecelakaan sebagian besar berawal dari pelanggaran lalu lintas. Hukuman memang harus diberikan, bukan hal yang sulit saat ini sebenarnya dengan berkembangnya teknologi, sebagai contoh tiap traffick light dipasang CCTV, sehingga bisa memantau kendaraan yang melanggar, bisa mendeteksi nomor polisi kendaraan yang melanggar, atau kedepan mungkin sepeda motor dilengkapi RFID, sehingga bisa dideteksi dari jauh, tanpa harus melihat plat nomernya. Hasil pantauan pelanggaran tersebut lalu diupload di portal khusus, sehingga bisa diakses oleh publik dan tentu saja pelaku yang sudah teridentifikasi nomer polisi kendaraannya maka di SMS dan jikapun tidak segera mau membayar, tetap saja kelak saat kendaraan tersebut pajak tahuhan, maka bukti video dan foto pelanggaran  diperlihatkan lagi, dan tetap harus membayar denda pelanggaran. Sepertinya arah tilang online ini sudah mulai berjalan di Kepolisian RI. Tinggal mengembangkan saja.

 

Pemandangan umum di palang pintu kereta api, semua lajur jalan full.

 

Budaya malu dan antri untuk berhenti tertip di lajur kiri yang mulai luntur

 

Setelah kereta api lewat, dan palang pintu dibuka, maka siap-siap berebut jalan.

 

Satu lagi PR besar adalah di perlintasan REL Kereta Api, yang saat ini sudah umum kita lihat ketika palang pintu kereta api turun, semua sisi jalan raya di kedua sisi rel KA akan terisi penuh, salah satu sebab adalah karena palang pintu KA membuka yang kanan terlibih dahulu, sehingga para pelanggar di sisi kanan bisa lolos terlebih dahulu, sementara yang tertip di sisi kiri jalan, pasrah tidak bisa maju sebelum palang KA benar benar posisinya tegak keatas. Salah satu solusi teknis bisa dicoba palang pintu dibalik, AS nya di sisi kanan, sehingga nanti yang terbuka dahulu adalah sisi kiri yang tertib, dan sisi kanan yang tidak tertib menjadi terhambat palang pintu. Solusi kedua adalah tilang dan denda dengan melihat rekaman CCTV.

Jalan raya adalah tanggung jawab kita bersama, mari mulai dari diri kita sendiri untuk tertib, lalu tularkan kepada orang lain, dan dari pihak berwenang juga memberikan aturan dan hukuman yang pasti bagi pelanggar. Semoga kita akan semakin nyaman dan aman di jalan.

 

Jarang kita jumpai perlintasan KA selenggang ini

 

Berikut ini video singkat, tentang bagaimana indahnya kalau mau saling mengalah dan berbagi di perlintasan KA.

One Response

  1. Tahun 2001 kali pertama hidup di Jogja
    saat itu sudah ngetren penggunaan masker makek sapu tangan.
    Pas pulang mudik pakek masker juga lha kok disuruh nyopot sama polisi.
    hehehE
    Jogja istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: