nyobain Sate Klathak Jejeran Pleret Bu Jazim 3

Kampung JEJERAN kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul memang terkenal kampung sate klathak. Apakah sate klathak itu? yaitu sate kambing yang hanya dibumbui dengan bawah putih dan garam saja.

image

Karena saya belum pernah merasakan yang di JEJERAN ini, maka saya tadi mampir di warung Bu Jazim 3, tepat didepan POMPA BENSIN PLERET, jalan Imogiri Timur. Untuk menuju tempat ini gampang banget, tinggal cari terminal Giwangan, nah tinggal ikuti jalan keselatan. Tetapi tadi saya pesen klathak, eh mbaknya yang jual tidak denger, akhirnya yang disajikan sate biasa, tapi ndak masalah tetep saya makan juga, kapan kapan bisa mampir lagi untuk beli klathak.

image

Harganya juga murah lho, saya tadi habis 14.000 untuk sate biasa plus nasi, tambah Teh panas. Lalu saya juga beli gule, harganya satu porsi Rp. 7.000,-

Tadi saat di warung saya foto terus saya upload, eh ternyata yang punya warung ini temannya mas Moko member koboys. Teman mas Moko yang juragan sate ini punya CBR250R, moga-muga besok saya bisa icip-icip juga testride CBR250R, lha gimana nunggu undangan AHM tidak ada juga test ride CBR baik 150 ataupun 250 di Jogja,  karena katanya mau diajak mas moko untuk ikut baksos koboys. Dunia memang sempit, padahal saya asal saja mampir warung ini.
image

Selengkapnya Continue reading

Jembatan SESEK bambu di Sungai Progo (part II)

Langsung saya tulis kelanjutan dari part I. Jembatan sesek bambu yang part I letaknya di selatan jalur SUTET PLN, nah untuk yang jembatan sesek part II ini di utara  jalur SUTET PLN yang juga menyeberang Sungai Progo, letaknya kalau di Kulonprogo di sekitar dusun TUKSONO, dan di ujungnya di kabupaten Bantul ada di wilayah Triwidadi, di selatan Perempatan Kayuan.

ini mantennya

Ceritanya tanggal 4 September 2011 mengahadiri resepsi pernihakan saudara di wilayah Kaliwiru Kulonprogro, daerah yang banyak industri pembuatan Tahu.

Pada saat berangkat, kami lewat Klangon di timur Jembatan Bantar, lalu belok kebarat melelui jalan Wates menuju Sentolo, dan di pertigaan pertama, kami belok kiri (ke timur), selanjutnya mengikuti jalan aspal yang ada ke arah Kaliwiru, arahnya keselatan dan ke timur.

terlihat tidak rapi dan tidak septi

Saat di dusun Tuksono, saya lihat ada plang nama mengiklankan adanya jembatan sesek bambu yang tembus ke wilayah Pajangan, Triwidadi Bantul, maka niat saya nanti sehabis acara resepsi manten, saya akan pulang lewat jembatan ini.

wah balapan nih?

Mantenan di Kaliwiru terhitung masih lekat dengan budaya yang kental sehingga acara menjadi lama, karena masih ada urusan lain di siang dan sore hari, maka saya pamit selepas mendapat minum dan snack 😀

Akhirnya saya jadi melewati jembatan sesek bambu, saya sempatkan berhenti untuk protret-potret sebentar. Yang kelihatan berbeda adalah, jembatan ini tidaklah serapi jembatan yang saya tulis pertama, kelihatan paling mencolok dari tidak adanya pagar di kiri dan kanan sepanjang jembatan, wah tidak septi ini, tapi kadung sampai sini, maka nekat lanjutkan juga melalui jembatan ini, lumayan lebih menakutkan dan kudu lebih hati-hati saat saya melintasinya, kaki kiri kanan tidak berani ada di footstep, jaga-jaga untuk menapak jika kondisi tidak seimbang. Setelah beberapa saat akhirnya sampai juga di ujung wilayang bantul, dan berhenti sebentar untuk membayar biaya pemeliharaan jematan, yaitu Rp 2000.

Black Coyote siap nyebrang

Dengan lewat jembatan ini, saya jadi hemat jarak kurang lebih 5 KM, lumayanlah.

Jembatan SESEK bambu di sungai Progo (part I)

Sungai Progo di bagian selatan Jembatan Bantar membelah meliuk indah memisahkan antara kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Saat musim kemarau seperti saat ini, sungai Progo ini tidaklah terlalu liar arusnya, tampak aliranya dangkal, bahkan disana-sini terdapat WEDI KENGSER, alias pulau-pulau yang terbentuk dari pasir yang tidak teraliri air sungai, ini karena begitu lebarnya sungai Progo membentang.

Ceritanya pada hari sabtu tanggal 3 September 2011, saya mengantar istri ke wilayah Ngentakrejo, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo. Berangkat dari rumah, lanjut rute ke bangjo Perempatan Sedayu, terus ambil keselatan sampai Perempatan Kayuan ambil keselatan lagi, lalu mampir sebentar di rumah teman istri, silaturahmi sebentar sekaligus saya menanyakan jembatan SESEK BAMBU yang bisa dilewati, dan dapat petunjuk nanti setelah lapangan desa Kamijoro, sebelum jalan belok kekiri maka ambil jalan kampung yang kekanan, ada dua jalan kampung, ambil yang paling kanan. Saya susuri jalan ini akhirnya sampai ke Sungai Progro.

siap menyeberang

Tampak jembatan SESEK BAMBU ini dibuat rapi, kira-kira lebarnya 1,5 meter dan pangjangnya mungkin sekitar 100 meteran. Saya bilang rapi, karena memang dilihat rapi dan kokoh, juga diberi pagar di kiri dan kanan, sehingga memberikan rasa aman saat melintas.

lebar, jernih dan dangkal saat kemarau

Untuk melewati jembatan bambu ini, harus gantian satu-persatu, misal dari arah barat dulu, atau dari arah timur dulu, tidak boleh bareng dan papasan di tengah jembatan, karena memang kondisi jembatan hanya kontruksinya dari bambu dan lebarnya pas-pasan. Sensasinya sungguh lain, terasa campuran sedikit kuatir dan takut kalau jatuh lalu nyebur ke sungai, meskipun sungainya dangkal. Bobot motor pulsar saya yang relatif sudah berat ditambah dinaiki 3 orang, maka saat melintas di jembatan ini suara ban beradu dengan bambu menjadi sangat meriah.

Sampai di ujung barat di wilayah Kulonprogo, kami membayar biaya pemeliharaan jembatan yang dikelola oleh warga, besarnya Rp 2000 saja. Jumlah ini sebenarnya terhitung murah, karena memang jalur yang saya lalui menjadi lebih pendek ketimbang saya harus memutar keselatan melalui Jembatan Panjang Srandakan Brosot. Belum lagi jika di pasar Mangiran ada keramaian lebaran pasar tumpah dan hiburan rakyat seperti pasar malam, perjalanan pasti dialihkan dari jalur utama, dan saya pernah muter-muter kesasar gara-gara lewat jalan kampung dan belum pakai GPS android.

Saya juga berkunjung ke bro Snalpot yang baru saja punya momongan perempuan, di wilayah dekat Kecamatan Galur. Selamat semoga menjadi anak yang sholihah.

Silaturahmi ke garasinya bro Snalpot, tilik snalpot yunior

 

enakknya koboys, nyervis ditemani sedulur koboys

Saya lagi servis pulsar di Bantul, sekalian saja saya SMS koboys yang tinggal di bantul, dan alhamdulillah pada bisa datang nemani saya servis pulsar.

Ada mas Panca, mas Irawan, mas Danan dan mas Andhi Suranto yang jauh jauh dari Borobudur 😀

image

tampak depan

image

mas Andri

image

me, AS, GE, BO

foto lengkapnya Continue reading

bengkel bajaj resmi joker 999 di kota Bantul

Hari ini saya pertama kali servis di bengkel resmi bajaj punya bro joker, yaitu JOKER 999 yang ada di Jalan Bantul, tepatnya di utara perempatan masjid Agung Bantul, sekitar 100 meter utara perempatan, ada di barat jalan. Letaknya satu deret dengan dealer TVS, Yamaha, Honda, Suzuki dan Kawasaki.

Kedepannya bengkel ini juga akan menjadi dealer penjualan motor pulsar, doakan saja cepat terlaksana, dan harganya lebih kompetitif.

Sebenarnya ini adalah servis pulsar saya yang kedelapan di bengkel Joker 999, tapi biasanya di bengkel yang Condong Catur. Bengkel yang di Jalan Bantul ini baru buka mulai 1 Juni 2011, ada satu mekanik senior yang dulu di bengkel Joker Condong Catur, namanya mas Andri. Ada juga satu Front Office yang saya belum sempat kenalan, sehingga tidak tahu namanya.

Jadi monggo saja yang punya pulsar di daerah selatan Jogja, bisa servis ke bengkel resmi ini, tidak perlu jauh-jauh ke Concat.

image

image

image

Selengkapnya klik disini Continue reading

awan yang aneh II

image

image

image

image

ini saya foto jam 9:20 di KEMUSUK LOR.
Terlihat awan terpusat di daerah Bantul. Kebalikan dari hari kemarin yang berpusat di daerah gununng Merapi.

CBR250R, Pulsar 220 DTS-i, rukunan test ride di Jogja saja

image

 

 

Heboh soal testride CBR250R dan P220 DTS-i, saya jadi teringat tabloid PULSA yang saya beli kemarin.

Apanya yang berbeda dengan tabloid ini, tabloid ini dalam setiap testride HP yang dilakukannya selalu membeli sendiri HP tersebut. Hebat kan tabloid ini! Dan saya percaya bahwa memang semua HP yang di test benar-benar dibeli sendiri, bukan pinjaman dari Vendor atau ATPM.

Ada baiknya saya tulis saja :

Demi menjaga independensi, ponsel yang diuji PULSA, didapat dengan cara membeli di pasaran, dan BUKAN PINJAMAN vendor / ATPM.


Jadi saat HP sudah diedarkan di pasaran maka tabloid ini baru bisa ngetest, karena harus membeli sendiri HPnya.

Jadi saya hanya berdoa, semoga akan ada sedulur KOBOYS yang besok beli CBR250R dan juga Pulsar 220 DTS-i, lantas nanti ditestride oleh KOBOYS seperti biasanya kita testride, mungkin di angkringan koboys di Terminal Palbapang Bantul. Sambil menikmati aneka wedang panas, nasi kucing dan aneka gorengan. Jadi besok saat nulis di blog bisa ditulis seperti ini

Demi menjaga independensi, motor  yang diuji koboys, didapat dengan cara meminjam diantara para koboys, dan BUKAN PINJAMAN vendor / ATPM.

😀

Inilah enaknya koboys, bisa testride motor aneka jenis dan merek.

* saya pernah ikut testride NMP dari Semarang ke Jogja.

BATIK TULIS BU TATIK & GURAH HM. IKHWAN. Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Jogja

Dusun Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Jogjakarta adalah sebuah Dusun yang letaknya di dekat makam raja-raja Mataram di Imogiri. Di Dusun ini para penduduknya banyak yang membuata kerajinan batik tulis, yaitu batik yang dibuat dengan canting, bukan batik cap yang tinggal cap saja. Jadi jika pingin membeli batik tulis langsung ke desa para pengrajin batik tulis ini saja, dan salah satunya adalah Batik Tulis Bu tatik yang kebetulan adalah sahabat dari istri saya :-D.

Di desa ini juga terkenal dengan keahlian GURAH yang gunanya untuk membuang ingus, dengan diberi cairan tertentu yang tentu saja ramuannya menjadi rahasia turun-temurun penduduk disini. Dan kebetulan juga suami Bu Tatik juga buka praktek GURAH.

Untuk menuju ke Dusun ini, paling gampang adalah dari perempatan ringroad terminal Giwangan, tinggal keselatan terus, sampai melewati jembatan Karang Semut. sekitar 100 meter dari jembatan akan masuk ke gapura yang saya sendiri lupa tidak memotretnya, lalu sekitar 50 meter dari gapura akan bertemu pertigaan, maka belok kiri di pertigaan ini, ikuti ketimur kira-kira 1 km nanti akan ada pertigaan di tengah sawah, ambil yang kanan, yaitu jalan ke Pondok Pesantren AR-ROMLY seperti foto dibawah ini. Nah Batik Tulis Bu Tatik ada di timurnya pondok pesantren ini, bersebelahan.

Pesan saya kalau mau nyari batik, tanya saja Pondok Pesantren ini, jangan tanya kalau mau nyari batik.

image

Selengkapnya klik disini Continue reading

Padepokan mas Pras, sesepuh PMHY

Jam 6 pas sebenarnya saya bisa sampai ke rumah mas Pras di jalan bantul, tapi berhubung baru pertama kali, maka saya harus keblandang balik lagi dan harus telpon dulu, akhirnya sampai juga ke rumah mas Pras.

Kesan pertama melihat rumah ini adalah, bener-bener rumah biker sejati, rumah penuh dengan motor honda lawas, penuh dengan emblem dan stiker klub, pokoknya lengkap kap.

Rumah mas Pras ini kemarin juga terkena angin ribut sehingga gapuranya hilang, sehingga yang saya foto ini adalah rumah mas Pras yang tanpa gapura 🙂

Terlihat tiga honda lawas berjejer di tengah seakan mengatakan selamat datang kepada saya, lalu ada pula DKW yang sudah acak adut ujudnya, dan ternyata masih ada satu honda lawas yang njogrok di sudut rumah.

Rumah ini didesain dengan ruang tamu yang lebar dan terbuka, saya yakin sudah banyak biker yang mampir di rumah ini, dan mungkin saya adalah blogger pertama yang berkesempatan merasakan ademnya suasanya rumah ini 😀
image

image

Foto foto selengkapnya klik disini Continue reading

Pohon Angsana yang rindang di Kota Bantul

Tanggal 7 januari 2011 saya nganter istri ke Bantul, tepatnya di Jalan Jendral Sudirman. Saat itu saya SMS Al Rozi untuk ambil stiker dari bro touringrider, dan disaat bengong nunggu, saya lihat jalan yang teduh karena disepanjang pinggir kiri dan kanan tumbuh pohon Angsana yang sudah besar-besar, letaknya rapi dan teratur.

Sungguh jalan ini sangat teduh, karena saat saya ambil fotonya pas kisaran jam 13:40 WIB, saat yang tentunya panas matahari menyengat. Tentu saja ini juga merupakan paru-paru di pusat kota Bantul. Kedepan saya harap tidak ada pohon yang ditebang dengan sengaja, mungkin juga pohon-pohon tersebut dilindungi peraturan daerah, sehingga aman terkendali.

Andai saja semua jalanan di kota Jogja ditanami pohon yang teduh dikiri kanan jalan, tentunya akan membuat Kota Jogja lebih nyaman, sesuai slogannya, Yogyakarta Berhati Nyaman. Memang sudah mulai dirintis beberapa tahun terakhir ini, di jalanan jogja ditanami pohon di tengah jalan, bukan di pingir-pinggirnya, caranya devider di tengah di lubangi lalu diberi BIS BETON, setelah itu diberi tanah lalu ditanami pohon, dan memang ada petugas yang menyirami saat musim kemarau, sehingga pohon terus hidup, semoga saja nanti pohonnya bisa besar, menyebar daunnya, dan membuat jogja makin nyaman.

image

image

image

image

image

image

image

image

Ini

%d bloggers like this: