ngetes si betty naik gunungkidul

Sebenarnya hari ini saya mau pakai honda revo milik mertua, sebab Pulsar saya saat tadi pagi saya cek olie mesinya berada dibawah level yang bawah. Sebenarnya hal yang wajar dan biasa olie mesin pulsar berkurang saat sudah km 700-1000 dipakai, dan biasanya langsung saja tambah. Tapi berhubung ini baru sekitar 500km dan saya tidak punya olie cadangan untuk menambah, maka saya kandangkan saja Black Coyote saya, dan pinjem revo mertua.

Saat mau berangkat, ternyata istri saya sudah pulang bawa si betty, kontan saja saya minta tukaran, sekalian saya mau test si betty kalau untuk riding naik gunungkidul bagaimana rasa dan sensasinya.

Si Betty ini menurut saya, sadelnya tebal sehingga empuk dan nyaman, tidak saya rasakan pantat panas dan rasa gak nyaman saat naik betty. Saat melibat jalan agak jelek memang goncangan agak terasa, tetapi masih lebih enak goncangan betty dari pada honda revo mertua saya.

Saya tadi lupa menyalakan My Track android saya, maka saya menyalakannya saat sudah di ringroad barat, di depan UMY. dan hasilnya kecepatan maksimal yang tercatat GPS android saya adalah 70,56kpj, padahal saya ykin tadi sempat lama juga sebelum masuk Piyungan saya riding 80 kpj saya baca di speedo betty, ini berarti ada pengurangan sekitar 10 kpj dari aslinya.

Saat kena angin tentu saja dengan betty yang mungil dan badan saya yang lumayang tinggi, membuat tidak aero dinamis, sehingga goyang-goyang saat angin kencang.

Untuk melibas tanjakan Piyungan-Patuk saya bisa riding 50-60 kpj di speedo betty saat jalanan agak sepi, tapi sempat juga tersendat karena ada truk yang pelan, dan terbukti si betty tidak masalah meskipun pelan-pelan di tanjakan. Sebagai gambaran elevasi terendah adalah 100 dpl di rumah saya dan tertinggi adalah 414 dpl di pemancar saya. Terlihat di grafik My Track di Piyungan ketinggian sekitar 100 dpl juga, jadi si betty naik gunung sekitar 312 meter, tanpa masalah.

Konsumsi bensin saat tadi berangkat di kisaran setrip ketiga, dan saat sampai di kantor sekitar 1,5 setrip, jadi habis 1,5 setrip di petunjuk bensin si betty, dan saya kira lebih dari seliter. kalau pulsar saya yang 180 CC saja bisa tembus 40km/liter, untuk naik turun gunung, si Betty untuk naik gunung sepertinya lebih boros. Coba besok saat turun gunung apakah ada kompensasi lebih irit atau tidak.

Jadi kesimpulan nyobain betty untuk naik gunung, sebenarnya tidak masalah, tapi masalah buat saya yang biasa pakai motor yang berat dan anteng. Bensin juga malah lebih boros dikit, meskipun saya belum test bensin secara akurat. Kelebihannya adalah tinggal puntir dan lepas gas saja.

 

setelah naik betty, jadi pingin PCX

image

betty adalah beat punya istri, sempat ragu dengan kenyamanannya. tapi akhirnya saya mengakui kok ya penak jebule numpak skutik, ora mikir ganti gigi, jarang ngerem pula, karena gas dilepas saja sudah mengurangi lajunya.

rasanya kok jadi pingin pelihara PCX. apalagi yang warna putih ini, kesannya kok cakep ya daripada warna yang dulu.
image

image

yang ini windshieldnya cakep banget ya http://cicakmerah7.wordpress.com/2011/06/08/akhirnya-pcx-putih/

”]

Masa Depan Pabrikan ada di motor MATIC

Pertama naik motor matic adalah motor matic semacam vespa corsa kalau saya tidak salah, itu sebelum tahun 2000 pastinya. Lalu ada motor Kymco, kemudian seingat saya yamaha mengeluarkan MIO. Jadi kelihatan siapa yang bermatic ria pertama kan? Saat Yamaha Mio keluar, sempat meragukan motor matic apakah bisa naik tanjakan Piyungan – Patuk GunungKidul, ini adalah rute saya kerja, dan jika anda ke GunungKidul dari arah Jogja tentu harus melewati tanjakan Piyungan-Patuk ini. Tetapi seiring waktu, ternyata matik memang mak nyos enggak masalah dibawa nanjak, bahkan teman saya beli matic untuk istri tercinta karena memang simple tidak perlu mikir masuk-masukkan gigi segala, terbukti bahwa matic tangguh juga melahap tanjakan.

mio memang sexy (saya spyshoot di pom bensin imogiri) 😀

Continue reading

%d bloggers like this: