Peluang PH dalam era televisi digital DBV-T2 di Indonesia

Tidak lama lagi, mau tidak mau, Indonesia harus menggelar juga teknologi pemancar TV teresterial free to air alias televisi gratis lewat pemancar menggunakan teknologi DVB-T2, standard yang dipakai oleh mayoritas negara-negara di dunia.

Keuntungan paling gampang dilihat adalah, bahwa besok saat tv digital teresterial digelar, maka akan ada 72 tv bersiaran bersama di tiap wilayah. Bandingkan dengan sekarang yang kisaran 10-15 tv saja per daerah.

Besok saat DVB-T2, ada dua kelompok usaha, yang pertama adalah kelompok perusahaan penyedia siaran, yaitu menyediakan tower dan pemancar disebut NETWORK PROVIDER, lalu ada perusahaan tv yang disebut CONTENT PROVIDER, yaitu penyedia isi siaran. Content provider ini besok tinggal menyewa kepada NETWORK PROVIDER untuk menyiarkan ISI SIARAN TV miliknya. Masing-masing bsia fokus di bidang usahanya, yang network provider fokus menyediakan peralatan pemancar yang bagus, yang content provider tinggal fokus membuat acara yang bagus.

Jadi saat ini untuk tv tv yang siarannya sudah mayoritas acaranya bikinan sendiri, akan lebih siap menghadapi era tv digital. Terutama acara-acara bikinan sendiri yang unggul dan ditunggu pemirsa tv. Jika melihat trend saat ini banyak acara yang hanya mengambil video di youtube, maka tv-tv seperti itu kelak akan kesulitan untuk membuat acara sendiri untuk mengisi 24 jam tayangan tvnya. Kenapa demikian, karena internet makin lama makin cepat, dan orang misal ber hp android akan gampang banget untuk nonton langsung streaming video youtube di hpnya.

Paling menarik adalah dengan 72 TV siaran bareng di tiap daerah, maka peluang PH untuk membuat dan memproduksi sebuah program acara sangat terbuka lebar, bisa dibayangkan sendiri secara hitungan kasar ada 72 X 24 per hari dari tv CONTENT PROVIDER yang butuh acara untuk mereka tayangkan, bisa ambil satu jam saja tiap hari sudah sangat baik. Semua hal mungkin bisa kita kemas menjadi acara yang baik asal bisa mengemasnya dengan menarik.

Inilah peluang nyata bagi orang-orang kreatif untuk segera mulai berpikir dan berkarya, sehingga nantinya saat tv digital teresterial benar-benar sudah digelar, tinggal menawarkan program acara yang sudah dibuatnya, juga membikin acara baru yang dipesan oleh pihak tv CONTENT PROVIDER.

Semangat!

 

Skenario terburuk bagi operator transmisi, saat era tv digital tiba

Kehidupan dan teknologi memang berkembang. Teknologi semakin menemukan efisiensi tetapi dengan peningkatan kualitas yang lebih baik dari teknologi yang lalu. Begitu juga dengan teknologi DVB-T, digital video broadcasting teresterial, ini adalah teknologi TV digital teresterial (pemancar) yang diadopsi dari eropa.

Jika tiada aral melintang, maka tahun 2018 seharusnya di Indonesia DVB-T ini sudah digelar dan teknologi pemancar analog akan digulung alias dimatikan. Sebagai gambaran pemancar analog, untuk gampangnya ada 10 pemancar TV Jakarta yang punyai stasiun relay (pemancar) di Jogja yang masing-masing punya aset tanah, tower, gedung, dan tentu saja karyawan. Jika rata-rata tiap pemancar ada 8 karyawan, maka ada 80 orang yang bekerja di pemancar.

Lalu apa skenario terburuknya? Perlu diketahui bahwa teknologi pemancar digital, memungkinkan lebar kanal 8 Mhz  yang pada pemancar analog hanya digunakan oleh satu pemancar, maka saat sudah beralih ke teknologi pemancar tv digital dapat digunakan secara bersama oleh 6 tv memancar bersama. Artinya untuk 10 pemancar tv jakarta, hanya diperlukan 2 kanal frekuensi saja. Penjelasannya adalah 2 kanal dikalikan 6 tv, sama dengan 12 tv bisa siaran bersama, jadi malah masih sisa 2 tv.

Saat saya kemarin mengikuti seminar dengan nara sumber Bapak M Sukarna, beliau pernah mencoba di pemancar milik ANTV Jakarta di kawasan Joglo, beliau bilang bahwa satu feeder bisa dilalui oleh pemancar analog dan pemancar digital sekaligus.

Contoh lebih jelas adalah di MNC grup yang ada di Jogja, bahwa satu antena, satu tower bisa untuk 3 pemancar yang di combiner (digabung). Ada pemancar RCTI, GlobalTV dan MNCTV yang lalu outputnya digabung menjadi satu, lalu dipancarkan melalui satu kabel feeder dan satu antenna di pucuk tower, dan sebagaimana para pemirsa di Jogja bisa melihat ketiga tv tersebut tanpa gangguan.

Jadi untuk era pemancar TV digital besok, saya kok cukup yakin bahwa cukup satu lokasi pemancar dengan satu tower, satu feeder, satu antena, dengan dua mesin pemancar yang dicombiner, masing masing mesin diberi input dari multiplexer 6 tv receiver. Sehingga akan bisa siaran 12 tv sekaligus hanya di satu lokasi, sangat irit listrik dan irit karyawan bukan. Jadi jika sebelumnya ada 80 pekerja TV di pemancar, untuk 10 pemancar tv analog, maka saat era pemancar tv digital besok, hanya akan dipakai 11 orang saja, yaitu 1 kepala transmisi, 4 operator transmisi, 4 satpam, 2 office boy. Satpam bisa dikurangi menjadi 3 saja, OB pun bisa cukup satu saja kalau malam tidak butuh OB. Jadi kira-kira besok tahun 2011 akan ada 70 orang pekerja TV di pemancar yang harus siap-siap angkat kaki.

Sehingga saat era tv digital besok, tv adalah penyedia konten (CONTENT PROVIDER) yang akan disiarkan, dan satunya adalah NETWORK PROVIDER yaitu perusahaan diluar pemilik TV yang menyediakan sarana perangkat untuk disewa sebagai wahana menyiarkan tv secara digital ke pemirsa. Intinya bahwa Content Provider hanya fokus memproduksi isi siaran dan tidak perlu punya pemancar sendiri, sedangkan Network Provider hanya menyediakan sarana pemancar digital untuk disewakan ke tv content provider.

Siap gak siap ya harus siap.

%d bloggers like this: