Mempercepat era TV Digital DVB-T, mudah kok

Setelah saya pikir-pikir, jika mau mempercepat era TV teresterial digital di Indonesia digelar yang memakai teknologi eropa yaitu DVB-T (digital video broadcasting – teresterial), sebenarnya tidak begitu sulit. Tinggal pemerintah, mungkin dalam hal ini KOMINFO RI pada tahun 2012 mewajibkan seluruh TV Jakarta yang bersiaran nasional, yang sudah eksis selama ini,  yang jumlahnya ada 10 pemancar untuk multicast melakukan siaran digital dan analog.

Jadi kesepuluh tv jakarta yang bersiaran nasional tersebut, pada tahun 2012 diberi jatah dua kanal, mungkin di kanal VHF untuk dan harus bersiaran digital. Kenapa dua kanal? karena satu kanal bisa untuk menampung 6 slot tv digital bersamaan, maka harus ada dua kanal sehingga ada 2 kanal kali 6 slot sama dengan 12 tv digital, jadi malah masih sisa dua slot yang mungkin bisa diisi oleh tv lokal jika mau bergabung pada tahun 2012.

Saya teringat tahun 1990an ketika RCTI hadir di saluran UHF, maka kami masyarakat rame-rame dan sukarela beli TUNER UHF agar bisa menerima sinyal UHF, karena pada waktu itu mayoritas pesawat tv penerima hanyalah VHF saja.

Memang agak berbeda kondisinya saat ini, dimana masyarakat tetap bisa menerima siaran dari pemancar tv UHF yang analog, tetapi jika nantinya masyarakat tahu bahwa kualitas pemancar tv digital lebih baik dari yang analog, pelan tapi pasti, masyarakat tentu tidak akan keberatan membeli Set Top Box bagi tvnya yang belum ada tuner penerima siaran pemancar tv digital. Apalagi jika harganya hanya dikisaran Rp. 100.000 sampai Rp. 200.000 saya kira cukup terjangkau secara ekonomi dan secara psikologis.

Terus langkah pemerintah selanjutnya adalah, mulai tahun 2012, tidak boleh ada toko yang jualan tv penerima analog, semua harus sudah digital, jadi begitu ada masyarakat yang yang beli pesawat tv yang baru, maka otomatis sudah beli pesawat tv yang digital. Tapi memang peraturan ini hanya khusus untuk kota-kota besar yang memang sudah bersiaran teresterial digital.

Untuk jangka waktu 2012 sampai 2018 memang masih siaran secara simulcast, yaitu siaran bareng antara yang analog dan digital, ini untuk MENGHABISKAN tv penerima analog yang mungkin sudah terlanjur dibeli masyarakat sebelum tahun 2012, dengan perkiraan tv lama akan rusak selama perjalanan waktu samapi tahun 2018, sehingga saat beli tv baru, sudah pasti membeli tv penerima siaran digital.

Master Plan TV digital

Jika melihat roadmap MASTERPLAN pembagian kanal frekuensi untuk tv digital yang nantinya hanya 27 kanal dari kanal 22 UHF sampai kanal 48 UHF, maka kalau di Jogja ini sungguh tidak masalah lagi karena kanal tersebut sekarang yang dipakai oleh tv-tv jakarta yang bersiaran di Jogja. Jadi nanti tahun 2018 saat pemancar analog cutt off, maka tahun 2019 tinggal beralih ke kanal masing-masing tetapi dengan mode siaran digital teresterial. Contoh tvOne Jogja kanal 38 UHF, maka nanti tahun 2019 tvOne jogja siaran digital dengan kanal 38 UHF, karena tvOne jogja sudah punya tanah, gedung dan tower, maka tvOne jogja statusnya menjadi Network Provider, nantinya tv-tv lokal tinggal menyewa NETWORK milik tvOne jogja ini, dan ada 5 slot tersisa karena satu kanal bisa untuk 6 slot tv digital siaran bareng. Begitu juga dengan tv-tv jakarta lainnya di jogja, tetap memperoleh kanal frekuensi UHF masing-masing yang selama ini telah dipakai, dan juga menyewakan untuk tv lokal yang ingin gabung bersiaran di jogja.

Jadi di tahun 2019 nanti ada 10 pemancar tv digital, atau bisa disebut 10 NETWORK PROVIDER tv digital yang itu adalah pemancar tv-tv analog yang selama ini sudah eksis, sehingga semua karyawannya tetap bisa bekerja. Dengan 10 Network Provider DVB-T maka besok di Jogja akan ada minimal 10 kanal dikalikan 6 slot, sehingga ada 60 tv digital bersiaran bersama. Ini belum dihitung TVRI, Jogjatv, RBtv, dan ADiTV. Untuk TVRI jelas punya jatah otomatis kanal yang dipakai sekarang ini, tetapi untuk ADiTV dan RBTV menurut saya akan lebih baik jika ikut bergabung saja dengan pemancar (network provider) yang ada, sebab saat ini untuk ADiTV dan RBTV memang belum punya tower sendiri yang layak. Jogjatv memang sudah punya tower, tanah dan bangunan sendiri, tetapi towernya kurang tinggi dibanding rata-rata tower tv jakarta yang 100 meter.

Demikianlah kira-kira langkah-langkah yang sekiranya dapat segera dilakukan oleh pemerintah jika memang benar-benar ingin segera menggelar DVB-T di bumi Indonesia. Semoga berguna 😀

Indonesia goes to digital TV

image

Alhamdulillah tanggal 26 September 2011, saya berkesempatan untuk mengikuti seminar di JEC yang dilaksanakan oleh KOMINFO RI dalam rangka 1st ICT Expo and Conference 2011.

Sebenarnya saya hanya menghadiri semunar yang ini saja http://hadiyantablog.com/2011/09/27/1st-ict-expo-conference-2011/, tetapi setelah selesai seminar, saya iseng-iseng menghampiri meja penyelenggara seminar tv digital, dan minta makalah, dan Alahamdulillah malah diberi satu tas lengkap berisi makalah, boneka ikon tv digital dan kaos keren 😀

Dan ini niata saya untuk berbagi yang saya dapatkan, semua bahan ini saya dapatkan dari seminar TV

image

Foto selengkapnya klik disini Continue reading

%d bloggers like this: