Gonjang ganjil rebutan frekuensi antara TPI dan MNC

image

Perhatikan running text nya

Sekitar dua hari yang lalu melalui teman teman dan sahabat di FB saya saya mendapatkan kabar bahwa terjadi perang power pemancar di kanal 37 UHF di wilayah Jakarta antara MNC TV dan TPI.

MNC TV pakai tenaga 40 KW.
TPI pakai tenaga 95 KW.

Tentu tenaga besar mencaplok tenaga yang lebih kecil.

=======================
Ini berita resmi dari KPI PUSAT.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melakukan rapat korodinasi dengan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Ditjen SDPPI) dan Direktorat Penyelenggaraan Pos dan Informatika (Ditjen PPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika, guna membahas status hukum dari PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (CTPI), di kantor KPI Pusat (16/10). Koordinasi ini dilakukan mengingat KPI sendiri telah menerima dua berkas pengajuan perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) dari dua entitas yang beda untuk frekwensi yang sama, atas nama PT CTPI.
=========================

Ternyata keduanya pegang IPP untuk frekuensi yang sama, tentu juga untuk semua frekuensi pemancar di daerah daerah seluruh Indonesia, jadi kedepan perang power pemancar di frekuensi yang sama ini bisa terjadi di semua daerah.

Ibaratnya ada satu sungai, ada dua arus berbeda, satunya arus berwarna kuning, satunya arus berwarna biru, semua mengalir dalam satu sungai, jadi kadang ada yang menang arus biru, kadang arus kuning menang, kadang campur.

Terus siapa yang rugi? Penoton pastinya

Lalu siapa yang mumet? KPI, balmon, dan kominfo tentunya.

Kalau pandangan saya khusus untuk wilayah Jogja dan mungkin daerah lain yang masih ada kanal kosong, maka kasih saja kanal kosong itu ke TPI.

Misal untuk jogja masih memungkinkan kanal 53 UHF dan 59 UHF dipakai di jogja yang mengcover jogja, solo, magelang, perbatasan purworejo, karanganyar, boyolali. Karena kanal 55 UHF sudah dipakai RTV JOGJA, 57 UHF dipakai NET JOGJA dan 61 UHF dipakai KRESNA TV. Sedangkan kanal aslinya jogja adalah 14 kanal genab dari 22 sampai 48 UHF.

Secara nasional Kanal TV dari 22 – 61 UHF (atau 62 ya?) bisa bisanya saja mengaturnya.

Bagi saya pribadi, TPI punya memory khusus dalam perjalanan hidup saya, karena seingat saya dulu saat saya kelas 3 SMP, TPI hadir melalui kanal TVRI, itu sekitar tahun 1988/1989 kalau tidak salah.

Lalu sata ingat MAHABHARAT dulu diputar di TPI saat saya sudah kuliah kisaran tahun 1993. Saat itu saya lebih memilih nonton MAHABHARAT dari pada kuliah, dulu belum ada youtube.

Ternyata setelah saya kerja di pemancar tv, saya baru tahu kalau pemancar TPI itu jadi satu tower dan satu antena dengan ANTV jogja. Lalu setelah dulu bergabung dengan NMC maka pemancar TPI pindah gabung RCTI, GLOBAL TV dan TPI, jadi tiga pemancar dalam satu gedung lalu outputnya di combine salurkan melalui satu feeder dalam satu tower antena ke antena pemancar dipuncak tower sehingga bisa dinikmati oleh pemirsa.

Nah kalau memang TPI mau kembali lagi ke jogja, mungkin sekali akan rujuk satu rumah lagi dengan ANTV, karena saya lihat gedung TPI di lokasi pemancar ANTV jogja masih ada, jadi tinggal masang pemancar dan di gabungkan lagi.

Yang seru jika itu terjadi, tower pemancar mnc dan antv/tpi jaraknya cuma sekitar 50-100 meter sebelahan saja.

Apakah itu akan terjadi? Kita tunggu saja.

*foto foto yang saya pakai saya pinjam dari mas Ismail dan Pascalis. Bukan hasil kamera saya.

image

image

TPI di kanal 37 UHF

image

Perhatikan running text nya

image

Perhatikan running text nya

ADiTV sekarang onair dari tower MNCgrup

Tepat 1 April 2012 kemarin ternyta ADiTV telah rampung pindahan ke lokasi baru di towernya MNC grup, padahal di MNC gedungnya minimalis dan sudah ditempati MNCtv (TPI), RCTI dan GlobalTV, sehingga pasti sumpek tempatnya ketimbang saat ADiTV di tvOne dulu.

Menurut penilaian pribadi saya, ADiTV ini malah boros karena dari awal tidak serius membuat pemancar dengan standar minimal. Perlu diketahui bahwa ADiTV ini sudah 3 kali ini pindah tower, yang pertama di towernya sendiri yang kemudian ambruk kena angin kencang, lalu pindah ke tvOne, lalu terakhir pindah ke MNC grup. Saat pidnah dari towernya sendiri ke tower tvOne, masih memakai mesin pemancar yang lama, sehingga tidak perlu beli pemancar baru, tapi untuk antenanya beli baru karena remuk saat towernya rubuh.

Antena yang putih milik ADiTV menjelang dicopot

Pada pindahan kali ini pemancarnya ganti baru, meskipun dengan merek yang sama yaitu LINEAR dari italy, hanya powernya lebih besar dan pemancar yang baru ini adalah sejatinya pemancar digital, tapi justru dianalogkan. Jadi besok jika harus siaran digital, ADiTV ini pemancarnya sudah siap, hanya masalahnya apakah mendapat kanal frekuensi digital atau tidak, menurut saya kok ya berat utnuk mendapat kanal frekuensi digital.

Kalau dihitung-hitung, ADiTV ini malah boros biaya dan waktu, ganti pemancar baru, ganti feeder, ganti tempat, ganti tower. Entah sampai kapan, mungkin sampai nanti teknologi DVB-T diberlakukan, maka ADiTV tinggal ikut ke NETWORK PROVIDER yang ada, tidak perlu bikin tower dan bikin bangunan. Ini memang dilema bagi ADiTV, tanggung waktunya jika bikin tower dan bangunan pemancar sendiri.

Lihat saja kompasTV yang beli kanal frekuensi RBTV saja hanya gabung di gedung dan tower trans7, tetapi lain ceritanya dnegan ADiTV, kalau kompasTV serius, pakai pemancal berkekuatan 30KW.

tv nasional jakarta tirulah langkah nexmedia

Ada yang komentar di postingan saya tentang pay tv DVB-T berjudul http://hadiyantablog.com/2011/11/15/edp-macvision-borobudur-tv-di-kpid-diy/ sebagai berikut

oke deh saya langsung buka website yang dirujuk http://www.nexmedia.co.id/ dan ternyata memang sudah ada dan  saat ini jangkauan Nexmedia dapat dinikmati diwilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (JABODETABEK). Segera akan siap melayani kota-kota lainnya di Indonesia.

Keunggulan dari nextmedia ini adalah sebagai berikut (copas dari site nya)

1. Hiburan Praktis, Harga Terjangkau. Menyajikan tayangan channel-channel unggulan dengan harga terjangkau  mulai dari Rp. 51.000,-

2. Gambar Jernih. Nexmedia menggunakan teknologi MPEG 4 semakin menjamin kenyamanan dalam menikmati tayangan yang menghasilkan kualitas tayangan terbaik, gambar jernih.

3. Tanpa Parabola. Nexmedia merupakan pelopor televisi berlangganan praktis, tanpa menggunakan parabola, cukup menggunakan antenna TV biasa.

4. Dapat Dibawa Kemana Saja. Nexmedia dapat dipindah-pindah dari ruangan ke ruangan atau dari rumah ke rumah lain, praktis dan fleksibel.

5. Mudah dipasang Sendiri. Bawa pulang Nexmedia dan pasang sendiri, atau daftar sekarang kami akan mengirimkan langsung ke rumah Anda.

Nexmedia ini on air dengan teknologi DVB-T dan saya masih yakin untuk satu kanal maksimal hanya bisa 8 saluran. Jadi kalau misal nexmedia menjanjikan 32 saluran berbeda (siaran berbeda) maka nexmedia harus punya 4 kanal frekuensi. Karena tiap kanal frekuensi maksimal bisa 8 siaran berbeda, maka 4 X 8 = 32 saluran berbeda dalam waktu bersamaan.

Oke kita kembali ke judul, bahwa tv jakarta sebaiknya meniru langkah nexmedia ini. Perlu diketahui bahwa sekarang ini sudah semacam terbentuk grup-grup TV sebagai berikut

1. Grup Emtek = SCTV, Indosiar, O’Channel, nexmedia

2. MNC = RCTI, MNCTV, GLOBALTV+NusantaraTV

3. VIVA = ANTV+tvOne

4. TransCorp = Transtv+Trans7

Itulah empat grup besar yang saya ketahui, masih ada MetroTV yang entah ikut grup mana, atau mungkin bikin grup sendiri.

Jadi langkah paling mudah bagi ketiga grup (kecuali emtek) adalah meniru langkah grup emtek, yaitu bikin paytv baru persis nexmedia dengan teknologi DVB-T.

Jadi misal satu grup dapat satu kanal frekuensi tv digital DVB-T, maka misal grup VIVA nanti membuat tv baru berbayar, sehingga tvOne dan ANTV tinggal ikut saja di pemancar digital milik tv baru. Tentang tempat dan towernya tidak perlu baru, cukup memakai tanah atau gedung kosong di lokasi pemancar tvOne atau ANTV lalu tempatkan pemancar DVB-T. Selesai.

Jadi masyarakat bisa lebih cepat mempunyai pilihan untuk teknologi DVB-T. Untuk langganan mungkin bisa ditekan serendah mungkin, karena nanti tetap saja tv jakarta memasang iklan seperti biasa.

Kendala utama migrasi dari analog teresterial ke DVB-T adalah penyediaan SET TOP BOX, mungkin saja dengan adanya pay-tv DVB_T yang sepaket dengan  grup masing-masing, bisa jadi jalan tengah yang baik, jadi mulai 2012 sampai muangkin 2018 bisa siaran multicast yaitu teresterial analog dan teresterial digital (DVB-T) bisa siaran bareng, sehingga masyarakat yang ingin menonton TV dengan lebih baik bisa berlangganan pay-tv, atau nanti ada receiver unlock yang bisa untuk nonton semuya siaran tv biasanya kecuali yang berbayar. Nantinya saat 2018 siaran analog harus CUT OFF, saya yakin hampir semua orang sudah beralih ke penerima DVB-T. Mulai 2013 harus ada aturan tidak boleh jualan tv penerima yang analog.

Dengan teknologi DVB-T ini, masyarakat yang membeli atau langganan pay tv dvb-t tidak ribet, karena tinggal colokin ujung antena ke input set top box, lalu outputnya dari set top box nya masukkan ke TV yang dipunyai dirumah. Tidak perlu ganti antena, tidak perlu ganti TV.

Bandingkan dengan DVB-S (satelite) yang memerlukan antena parabola kecil, dan perlu teknisi khusus untuk memasangnya. Karena tidak perlu SDM teknisi pemasang seperti pada tv berbayar satelit dan tidak perlu antena parabola kecil, maka tv berbayar DVB-T lebih murah dalam investasi, karena hanya perlu set top box (receiver) yang di TV satelit juga perlu ini.

Tiap kanal frekuensi bisa sampai 6 atau 8 saluran berbeda, jadi nantinya tiap grup tentu saja bisa menggandeng tv lokal atau tv manapun.

Misal grup VIVA = 1. tvOne, 2. ANTV, 3. tv baru berbayar, 4. TV lokal jogja1, 5. TV lokal jogja2, 6. TV lainnya

Teknologi selalu menemukan jalannya sendiri untuk lebih murah dan lebih mudah dinikmati manusia.

%d bloggers like this: