tvOne dan Antv digital DVB-T2, diterima baik sekali di Kota Wates

Hari sabtu 19 Januari 2013, pas libur saya gunakan waktu saya untuk melakukan test penerimaan televisi digital teresterial di Kota Wates, saya pilih Wates karena dari pemancar di Jogja, daerah Wates ini merupakan daerah yang boleh dikatakan paling barat, meski kebarat lagi juga masih tercover, nanti kalau ada kesempatan lagi saya akan test di daerah limit perbatasan KulonProgo dengan Purworejo.

screencapture pas saya di kota Wates.

screencapture pas saya di kota Wates.

Line of sight Pemancar ke kota Wates, kira-kira 40KM

garis lurus Pemancar tvOne ke kota Wates, kira-kira 40KM

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

Purworejo sudah ada pemancar tv digital sendiri, karena sinyal dari pemancar di Jogja tidak bisa menembus pegunungan Menoreh yang membujur dari utara keselatan di daerah KulonProgo. Sebenarnya di Jogja pun ada beberapa tempat yang kesulitas dalam penerimaan tv dari pemancar di Jogja (Bukit Patuk Gunungkidul), karena ada beberapa bukit juga, seperti daerah SEDAYU Bantul keselatan yang ada perbukitan, sehingga dibagian barat bukit agak kesulitan untuk mendapat sinyal televisi.

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

Terlihat untuk tvOne dan antv diatas, hampir sama parameter kualitas dan intensitas, karena memang satu pemancar digital di tower tvOne.

Untuk transTV dan Trans7 dibawah ini juga demikian, hampir sama parameter kualitas dan intensitasnya, karena untuk pemancar tv digitalnya di tower Transtv.

wates5

wates6

Untuk kota Wates, jika ditarik garis lurus dari pemancar tvOne di Gunungkidul, kurang lebih jaraknya adalah 40KM. Hasil penerimaan sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari rumah saya di daerah utara Sedayu Bantul yang kurang lebih hanya 25 Km dari pemancar.

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

Intinya di kota Wates, baik penerimaan tv analog maupun tv digital, semuanya baik hasilnya. Terimakasih kepada mas Adhani pemilik Toko Elektronik KARUNIA BARU, yang sudah mengijinkan tempatnya dan tv serta antenanya untuk saya pakai melakukan percobaan penerimaan tv digital di Kota Wates. Letak toko ini dari terminal Wates ambil kanan jika dari arah jojga, kira kira 300 meter, di kiri jalan.

Besok jika STB DVB-T2 (tuner tv digital) sudah dijual bebas, untuk warga Kulonprogo silahkan beli di toko Karunia Baru. Cepetan kulakan ya mas Adhani 😀

Tata cara installasi SET TOP BOX untuk menangkap siaran tv digital gratis teresterial

Alhamdulillah kemarin selesai tugas, saya mampir ke pemancar TransTV yang sudah bersiaran digital teresterial DVB-T2 sudah sekitar dua minggu, mungin kisaran awal bulan September 2012 tepatnya. Saya banyak belajar secara layer fisik pemancar digital, karena selama ini saya hanya belajar secara teori, baca-baca dari download bahan di internet.

Jadi untuk pertama kalinya saya melihat pemancar DVB-T2 secara langsung ON AIR dan bisa mempelajarinya bagian per bagian, beruntunglah saya karena kepala transmisi TransTV jogja sangat baik hati mau menularkan ilmunya kepada saya 😀

Untuk pertama kalinya pula saya bisa melihat hasil pancaran DVB-T2 di televisi pemirsa sekaligus membandingkannya langsung dengan pesawat televisi yang masih menerima siaran analog, keduanya mendapatkan masukan dari antena yang sama, sehingga perbandingannya bisa adil. Dan hasilnya jelas sekali bahwa memang siaran televisi digital ini kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Bagus banget video dan audionya dibanding dengan yang analog. Yang analog mayoritas ada bintik bintik dan agak berbayang, atau gambar seperti dobel.

Tulisan saya ini nanti jelas bisa sangat panjang, karena akan saya tulis dan saya beri gambar foto dengan harapan bisa lebih jelas memberi gambaran kepada para pembaca sehingga tidak bingung lagi tentang SET TOP BOX, yaitu fungsi, kegunaan serta cara memasangnya. Saya dulu juga sempat salah, karena saya kira output dari STB masuk ke input antena di televisi, ternyata memakai input AUDIO VIDEO, seperti nyetel VCD lah.

Baiklah langsung kita mulai. Kita perkenalan dulu dengan SET TOP BOX yang saya dapat karena dipinjami sahabat saya di transtv.

Inilah SET TOP BOX (STB)

Foto diatas adalah Set Top Box (STB) ukurannya cuma kecil saja, ada remotenya dan ada adaptor juga ada kabel audio video.

Continue reading

inilah alat yang harus dibeli untuk bisa menangkap siaran tv digital gratis DVB-T2

Setelah searching di mbah google, saya mendapat beberapa hasil, yang pertama adalah ini

http://www.geniatech.com/pa/android-tv.asp

harus ada keterangan seperti ini kalau mau beli, terutama yang DVB-T2

yang kedua adalah ini :

tinggal colokin ke USB komputer/laptop

Sepertinya para pedagang belum yakin dengan keputusan pemerintah, hai pedagang ayo cepetan kulakan STB yang DVB-T2, iklanin di blog saya juga boleh 😀

Ini tv digital DVB-T2 sudah on air tapi masih sulit mencari STB nya.

Network Provider tv digital teresterial Zona layanan 6 (Jawa Tengah dan Yogyakarta)

Saya fokuskan untuk menulis Zona 6 yaitu area Jogja dan Jateng yang digabung menjadi satu, karena tempat kerja saya di area 6 ini, yaitu di pemancar TV di Jogja bertempat di Bukit Patuk GunungKidul. Sekarang ini saat masih tv analog, Jateng dan DIY terdiri beberapa zona mengingat ada interferensi yang diakibatkan masih memakai teknologi pemancar analog,

Sebelumnya marilah kita membaca pengumuman dari kominfo disini :

http://kominfo.go.id/berita/detail/3389/Ini+Seleksi+Kominfo+Tentang+Penyiaran+TV+Digital+di+5+Zona+

Jadi pemenang Zona layanan 6 (Jawa Tengah dan Yogyakarta) adalah :
1. PT GTV Dua (Global TV),

2. PT Indosiar Televisi Semarang (Indosiar Semarang),

3. PT Lativi Mediakarya Semarang-Padang (TVOne Semarang),

4. PT Media Televisi Semarang (Metro TV Jawa Tengah),

5. PT Trans TV Semarang  Makassar (TransTV Semarang).

6. yang keenam sepertinya TVRI, jadi tidak perlu dilelang 😀

Pada era tv digital memang tidak ada tv nasional, adanya tv lokal, sehingga bisa dilihat diatas contoh pemenang kedua adalah Indosiar Semarang.

Lhoh kok cuma ada 6 pemenang dengan TVRI? Lantas apa ini artinya? Artinya adalah untuk wilayah Jateng DIY, besok saat teknologi digital teresterial-free to air digelar, hanya ada 6 tower atau 6 stasiun pemancar tv digital sebagaimana diatas. Lho piye iki kok malah cuma ada 6 tower? malah jadi sedikit dong? Tenang… karena ini memakai teknologi digital yaitu DVB-T2, maka untuk satu tower pemancar, bisa memancarkan 12 konten tv sekaligus. Jadi besok maksimal akan ada 6 tower dikalikan 12 konten tivi = ada 72 konten tv digital yang bisa kita nikmati dirumah kita dengan gratis. Padahal di Jogja saat ini ada 10 tower yang memancarkan 14 tv sebagai berikut :

1. Transtv

2. tvOne

3. jogjatv

4. TVRI

5. indosiar

6. SCTV

7. MNC (satu tower untuk RCTI+MNCTV+GLOBALTV+ADITV)

8. antv

9. trans7 (satu tower untuk trans7 dan kompastv)

10. metrotv

Karena besok hanya ada 6 tower saat digital, maka akan ada 4 tower tidak digunakan, dan kira kira yang akan tidak dipakai lagi adalah sebagai berikut :

1. SCTV (karena satu grup dengan indosiar)

2. antv (karena satu grup dengan tvOne)

3. trans7 (karena satu grup dengan transtv)

4. jogjatv

Untuk MNCjogja tidak menjadi masalah, karena dari awal sudah satu tower digunakan bersama oleh RCTI, GlobalTV, MNCtv dan ADItv. Menjadi masalah bagi yang satu grup tapi punya dua tower, misal seperti ANTV dan tvOne, pastilah harus dipilih salah satu tower dan lokasi pemancar yang paling baik dari keduanya. Kebetulan untuk Jateng DIY yang menang adalah tvOne, maka wajar bila pemancar digitalnya besok ditaruh di  tvOne, begitu pula dengan grup yang lain.

Aturan dari menteri kominfo adalah maksimal hanya 3 slot yang dipakai sendiri oleh pemilik pemancar, yang 9 harus disewakan kepada tv lain, walaupun mungkin itu tv kompetitor. Ini untuk menghindari monopoli.

http://kominfo.go.id/berita/detail/3399/Menkominfo%3A+Siaran+TV+Digital+Bakal+Anti+Monopoli

Baiklah sekarang kita melangkah ke kanal frekuensi yang bakal dipakai tv digital teresterial.

http://kominfo.go.id/siaran_pers/detail/999/Siaran+Pers+No.+60-PIH-KOMINFO-8-2011+tentang+Uji+Publik+RPM+Master+Plan+Frekuensi+Radio+Untuk+Digital+Teresterial+Pada+Pita+478-694+MHz+

Beberapa hal penting yang diatur dalam RPM ini adalah sebagai berikut:

  1. Pita frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial adalah 478 – 694 MHz dan digunakan untuk keperluan: penyiaran televisi siaran digital terestrial masa depan ( future plan ) pada rentang frekuensi 478 – 526 MHz ; dan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) pada rentang frekuensi 526 – 694 MHz.
  2. Setiap penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) wajib memenuhi ketentuan teknis sebagai berikut: rasio proteksi ( protection ratio ) sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini; dan kuat medan ( field strength ) pada lokasi titik pengujian/pengukuran di setiap wilayah layanan dibatasi maksimum 42,6 dbµV/m.
  3. Penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di setiap wilayah layanan wajib mengikuti pemetaan kanal frekuensi radio.
  4. Penetapan kanal frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di wilayah layanan yang cakupannya dapat menjangkau negara lain dilakukan berdasarkan koordinasi antara Direktorat Jenderal dengan administrasi telekomunikasi negara yang terkait.
  5. Penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di suatu daerah yang tidak tercakup oleh wilayah layanan manapun dapat menggunakan Gap Filler pada kanal 46 (670-678 MHz), kanal 47 (678-686 MHz) dan/atau kanal 48 (686-694 MHz).
  6. Penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) dapat menerapkan teknik Single Frequency Network (SFN) pada kondisi sebagai berikut: pada wilayah layanan tertentu sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini; atau pada suatu daerah di satu wilayah layanan yang tidak mendapatkan sinyal dengan kualitas baik ( blank spot) .
  7. Setiap alat dan perangkat radio yang digunakan untuk keperluan televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) wajib mendapat sertifika t alat dan perangkat radio dari Direktur Jenderal.

Untuk satu area layanan tv digital teresterial, diputuskan hanya 6 kanal frekuensi, sedangkan frekuensi yang disediakan adalah

Band IV :    

Nomor

Batas Frekuensi

Frekuensi Tengah

Kanal

(MHz)

(MHz)

1

22

478 – 486

482

2

23

486 – 494

490

3

24

494 – 502

498

4

25

502 – 510

506

5

26

510 – 518

514

6

27

518 – 526

522

7

28

526 – 534

530

8

29

534 – 542

538

9

30

542 – 550

546

10

31

550 – 558

554

11

32

558 – 566

562

12

33

566 – 574

570

13

34

574 – 582

578

14

35

582 – 590

586

15

36

590 – 598

594

16

37

598 – 606

602

Band V :

17

38

606 – 614

610

18

39

614 – 622

618

19

40

622 – 630

626

20

41

630 – 638

634

21

42

638 – 646

642

22

43

646 – 656

650

23

44

656 – 662

658

24

45

662 – 670

666

25

46

670 – 678

674

26

47

678 – 686

682

27

48

686 – 694

690

Penyiaran televisi digital teresterial menggunakan teknologi DVB-T2 dengan teknik SNF (single network frequency), sehingga nantinya untuk Jateng DIY misal sebagai contoh tvOne andaikan dapat kanal 35, maka seluruh Jateng DIY, semua pemancar digital tvOne memakai kanal frekuensi tersebut. Apakah tidak interferensi? Karena sudah digital dan menggunakan teknik OFDM (orthogonal frequency division multiplexing) yang bisa multi carrier system dengan membagi lebar bidang frekuensi yang tersedia (8Mhz) kedalam beberapa frekuensi yang lebih kecil, lalu data ditransmisikan secara pararel, sehingga bisa mengatasi masalah interferensi.

Untuk mengkover Jateng DIY diperlukan beberapa titik pemancar yaitu : Jogja, Purworejo, Magelang, Semarang, Pati, Brebes, Blora, Cepu, Purwokerto. Mirip sekali dengan network planning untuk telepon selular, bedanya kalau untuk selular menggunakan CDMA dan TDMA (gsm), kalau tv digital menggunakan OFDM.

Berikut ini perkiraan saya pribadi untuk pembagian frekuensi untuk tiap tiap daerah, karena saya cari cari master plan SNF nya belum juga saya temukan. kebetulan dulu skripsi saya tentang OPTIMALISASI JARINGAN GSM, jadi sedikit-sedikit saya paham tentang frequency planning.

Misal Untuk Jakarta dan Banten adalah : 22, 26, 30, 38, dan 42 masing-masing pemancar digital akan terpisahkan oleh 3 kanal frekuensi, agar mereduksi kemungkinan interferensi antar pemancar (mohon maaf ilmu saya benar-benar belum mendalam tentang OFDM dan SNF ini)

Jakarta

Jateng

Jabar

Jatim

1

22

33

24

25

2

26

27

28

29

3

30

31

32

33

4

34

35

36

37

5

38

39

40

41

6

42

43

44

45

Lantas bagaimana dengan para pemirsa nantinya saat tv digital ini digelar? Tidak masalah karena pemancar tv analog juga masih hidup, sampai nanti ditentukan MATI (cutt off) jika suatu area sudah siap 100% perangkatnya menerima tv digital. Nantinya kalau saya tidak salah, akan ada pembagian SET TOP BOX semacan konverter untuk dipasang pada tv dirumah yang masih analog agar bisa menerima pancaran tv digital. Letak SET TOP BOX (STB) ini ada di antara colokan antena dan TV analog. jadi colokan ujung kabel antena nanti masuk ke STB, lalu keluaran dari STB masuk ke colokan antena di TV. Tidak merubah apapun, baik tv maupun antena. Cukup tambahkan alat STB ini maka bisa menonton siaran tv digital.

Jika akhir tahun 2012 tv digital sudah benar-benar digelar di Jogja dan Jateng, maka logikanya tahun 2013 mulai dijual tv yang sudah ready untuk menerima siaran tv digital, harusnya tv analog tidak laku lagi.

Akhirnya selamat datang era tv digital di indonesia, Jateng dan Jogja khususnya.

Lampiran

http://web.kominfo.go.id/sites/default/files/Permen%20Masterplan%20Frekuensi%20Untuk%20Digital.pdf

%d bloggers like this: