Grup FB TV digital Jogja – Jateng, monggo gabung

Ini adalah salah satu grup di FACE BOOK yang saya ikuti yang sangat bermanfaat bagi saya sebagai pekerja televisi di pemancar tv analog dan digital DVB-T2.

Nama grupnya adalah TV DIGITAL JOGJA-JATENG. Tentu saja ini tempat sharing bagi penikmat tv digital teresterial free to air dengan teknologi DVB-T2 yang sudah mulai bersiaran dan kelak Insya Allah akan siaran full, menggantikan siaran tv analog yang boros kanal frekuensi dengan kualitas audio video yang kurang bagus dibanding tv digital.

https://www.facebook.com/groups/575744862504530?refid=18&__tn__=C

Itu link ke grup FB.

image

Berbagai macam informasi seputar tv  digital di share di grup ini, misal penerimaan di daerah member grup, STB apa yang bagus kualitasnya, antena model apa yang bagus, letak letak pemancar tv digital, jumlah mux tv digital yang sudah siaran. Dll.

Grup ini digawangi oleh Mbah Hanib dan Pakdhe Di Di, keduanya sangat antusias dalam dunia pertelevisian digital.

Meskipun namanya Jogja – Jateng tapi yang dibahas kayaknya ya seindonesia.

Jadi sumonggo yang pingin tahu tentang perkembangan tv digital bisa gabung ke grup ini. Terbuka kok grupnya.

Semoga bermanfaat.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

apakah tv digital teresterial DVB-T2 harus terhambat fitur EWS di STB nya?

Perlu pembaca tercinta sekalianketahui, bahwa untuk wilayah jogja solo dan tentu kota besar lainnya yang sudah ditenderkan untuk network provider pemancar digital teresterial DVB-T2, semua pemenangnya sudah install pemancar digital dan sudah siap siaran. Hanya saja saat ini untuk jogja sedang OFF AIR dulu karena terhambat ijin ISR yaitu frekuensi untuk siaran. Misal tvOne pakai kanal 35 UHF, ini harus dapat ijin ISR dari Balai Monitor di Jogja. Tetapi secara teknis semua pemancar sudah siap siaran kapanpun diminta ON AIR.

Belum kelar kendala diatas, ternyata ada lagi kendala lanjutan, yaitu STB DVB-T2 harus punya fitur EWS (early warning system) yaitu peringatan dini terjadinya bencana, misal stunami.

Pertanyaannya perlukah STB punya fitur ini? toh umur STB mungkin hanya kisaran 2-3 tahun saja, karena sejatinya STB ini adalah perangkat antara sebelum nantinya semua tv yang dijual sudah include receiver DVB-T2 nya.

Dan dalam kenyataannya seberapa bergunakah fitur EWS ini? dan kenapa harus ditanamkan pada STB, sebenarnya ada perangkat lain yang tiap orang mayoritas membawanya, yaitu HANDPHONE, kenapa tidak di HP saja fitus EWS ini ditanamkan, atau gunakan saja fitur SMS yang tiap HP pasti ada, jadi nantinya dibebankan kepada operator untuk SMS ke semua perangkat HP yang ada di wilayah terjadinya potensi bencana, hal ini bisa dideteksi oleh HLR (home location register) dan VLR (visited location register) pada sistem seluler. Jadi misal saya nomer jogja kebetulan sedang berada di Cilacap, lalu ada gempa dan berpotensi ada stunami, maka operator akan otomatis mendeteksi saya berada di cilacap, dan mengirikan pesan ke HP saya.

Bahwa tidak tiap waktu orang akan menyetel atau melihat TV, jadi belum tentu TV itu hidup terus, sehingga saat misal terjadi bencana, maka fitur EWS juga tidak begitu berguna.

Saat ini bahkan kabar baiknya adalah sudah ada satu dua penjual STB DVB-T2 dan anda sudah bisa membelinya. Dan sepertinya fitur EWS nya juga tidak ada, apakah nanti STB yang sekarang sudah pada dijual dan tidak ada fitur EWS akan disita oleh pemerintah?

Sekarang informasi gempa, stunami, tabrakan mobil, dll rasanya lebih cepat kita dapat seketika melalui twitter, karena di twitter biasanya langsung diupdate oleh orang orang yang mengalaminya atau yang melihatnya.

Jadi masih perlukah fitur EWS pada STB? saya kira kalau masyarakat diberi pilihan, adalah pilih segera bisa mendapat STB gratis tanpa atau dengan EWS agar bisa melihat tv dengan kualitas audio video yang lebih baik dari pada sekarang saat masih analog.

tvOne dan Antv digital DVB-T2, diterima baik sekali di Kota Wates

Hari sabtu 19 Januari 2013, pas libur saya gunakan waktu saya untuk melakukan test penerimaan televisi digital teresterial di Kota Wates, saya pilih Wates karena dari pemancar di Jogja, daerah Wates ini merupakan daerah yang boleh dikatakan paling barat, meski kebarat lagi juga masih tercover, nanti kalau ada kesempatan lagi saya akan test di daerah limit perbatasan KulonProgo dengan Purworejo.

screencapture pas saya di kota Wates.

screencapture pas saya di kota Wates.

Line of sight Pemancar ke kota Wates, kira-kira 40KM

garis lurus Pemancar tvOne ke kota Wates, kira-kira 40KM

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

scan otomatis, sebenarnya ada juga transtv dan trans7 tapi itu belum selesai scan

Purworejo sudah ada pemancar tv digital sendiri, karena sinyal dari pemancar di Jogja tidak bisa menembus pegunungan Menoreh yang membujur dari utara keselatan di daerah KulonProgo. Sebenarnya di Jogja pun ada beberapa tempat yang kesulitas dalam penerimaan tv dari pemancar di Jogja (Bukit Patuk Gunungkidul), karena ada beberapa bukit juga, seperti daerah SEDAYU Bantul keselatan yang ada perbukitan, sehingga dibagian barat bukit agak kesulitan untuk mendapat sinyal televisi.

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

terlihat kualitas dan intensitas penerimaan

Terlihat untuk tvOne dan antv diatas, hampir sama parameter kualitas dan intensitas, karena memang satu pemancar digital di tower tvOne.

Untuk transTV dan Trans7 dibawah ini juga demikian, hampir sama parameter kualitas dan intensitasnya, karena untuk pemancar tv digitalnya di tower Transtv.

wates5

wates6

Untuk kota Wates, jika ditarik garis lurus dari pemancar tvOne di Gunungkidul, kurang lebih jaraknya adalah 40KM. Hasil penerimaan sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari rumah saya di daerah utara Sedayu Bantul yang kurang lebih hanya 25 Km dari pemancar.

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

STB DVB-T2 tvOne yang saya pakai di Toko Kurnia Baru di Wates

Intinya di kota Wates, baik penerimaan tv analog maupun tv digital, semuanya baik hasilnya. Terimakasih kepada mas Adhani pemilik Toko Elektronik KARUNIA BARU, yang sudah mengijinkan tempatnya dan tv serta antenanya untuk saya pakai melakukan percobaan penerimaan tv digital di Kota Wates. Letak toko ini dari terminal Wates ambil kanan jika dari arah jojga, kira kira 300 meter, di kiri jalan.

Besok jika STB DVB-T2 (tuner tv digital) sudah dijual bebas, untuk warga Kulonprogo silahkan beli di toko Karunia Baru. Cepetan kulakan ya mas Adhani 😀

apa sih bedanya tv digital teresterial dengan tv satelit?

Tulisan ringan ini semoga bisa menambah dan mencerahkan bagi yang belum begitu paham tentang tv digital teresterial DVB-T2 yang free to air, alias gratis diterima oleh pemirsa.

TV digital DVB-T2 adalah siaran tv yang dipancarkan dari pemancar di darat (bukan dari satelit), contoh di jogja pemancar tv ada di bukit Patuk Gunung Kidul, dipilih tempat ini karena letaknya yang tinggi dan bisa menjangkau Jogja dan Solo sekaligus, meskipun sudah di tempat yang tinggi, tetap masih ditambah tower pemancar setinggi 80 meter sampai 150 meter, agar siaran bisa melewati halangan gedung dan pegunungan kecil yang mungkin menghalangi sampai ke rumah-rumah pemirsa.

Saat ini pemancar tv masih analog, yaitu satu jalur dipakai sendirian. Tetapi juga sudah ada yang bersiaran digital DVB-T2 seperti tvOne dan antv. Siaran digital ini memungkinkan satu jalur bisa dibagi-bagi lagi sehingga bisa dipakai siaran bareng 5-20 tv sekaligus, tergantung bitratenya.

Sekarang beralih dulu ke tv satelit, tv satelit ini sudah digital, yaitu standard DVB-S/S2 (digital video broadcasting Satelite/2). Jadi sebenarnya masih saudara antara DVB-S/S2 dengan DVB-T2 (digital video broadcasting Teresterial2). Lantas dimana bedanya?

Sebenarnya bedanya hanya pada antena penerimanya saja.

Untuk DVB-S/S2 siarannya dari satelit langsung ditangkap parabola, sebagai contoh adalah jika anda langganan indovision, fungsi parabola kecil diluar adalah untuk menampung sinyal dari satelit yang ada di atas sana. Setelah itu sinyal yang ditangkap parabola disalurkan ke STB (set top box) DVB-S/S2, STB DVB-S/S2 ini akan dibagikan kepada pelanggan yang berlangganan tv satelit, karena berlangganan atau berbayar atau disebut pay TV, maka dalam STB satelit ini ada smart card untuk mengontrol penggunaan bagi pelanggan. Nah dari STB satelit ini, lalu disalurkan ke TV kita. Karena penyiaran digital satelit sudah cukup lama, maka sudah banyak STB DVB-S/S2 dijual dipasaran, yang  dikenal dengan RECEIVER SATELIT, kalau yang ini biasanya untuk melihat siaran dari satelit yang gratis. Karena sebenarnya kita sudah dari dulu bisa nonton tvOne yang dari satelit, juga tv-tv lainnya secara gratis.

Nah untuk DVB-T2, siarannya dari pemancar di gunung, bukan dari satelit, inilah bedanya. Berhubung DVB-T2 tetap memakai frekuensi UHF, maka antena dirumah-rumah kita tetap bisa dipakai (contoh antena model PF), antena inilah fungsinya seperti antena parabola pada tv satelit. Dari antena yang biasanya kita pakai ini, sinyal kita teruskan ke STB teresterial DVB-T2, jadi kalau satelit pakai STB DVB-S/S2, kalau teresterial pakai STB DVB-T2, lalu dari STB DVB-T2 ini diberikan ke tv lama kita, jadi tidak perlu ganti tv baru. Cukup ditambahi STB DVB-T2 maka sudah bisa melihat tv digital teresterial dari pemancar di gunung sebagaimana biasa, dan tetap gratis.

Jadi perbedaan tv satelit dengan tv pemancar yang ada di gunung, hanya pada STB nya saja. Dan berhubung tv satelit ekbanyakan berbayar, maka pada STB DVB-S/S2 diberi smart card untuk mengontrol pelanggan. Pada STB DVB-T2 pun sebenarnya bisa diberikan smart card, contoh yang sudah berjalan di Jakarta adalah next media, ini adalah tv pemancar digital teresterial yang berbayar.

Jadi kita hanya perlu tambahan SET TOP BOX (STB) DVB-T2 saja untuk menangkap siaran tv Digital teresterial. Antena dan tv lama tetap bisa dipakai.

Demikian semoga bermanfaat.

tvOne & ANTV digital teresterial DVB-T2 sudah on-air pagi ini di jogja

Alhamdulillah era digital teresterial untuk tvOne dan ANTV di jogja padi dini hari tadi jam 02:30, sehingga mulai sekarang masyarakat jogja, solo, bantul, gunungkidul, solo, boyolali, dan sekitarnya bisa punya alternatif untuk melihat tayangan tvone dan antv digital, tentu saja dengan kelebihan kualitas gambar dan suaranya yang lebih baik dari siaran televisi analog yang selama ini telah kita nikmati. Siaran digital tvOne dan ANTV bisa dicari di kanal frekuensi 35 UHF di STB, jika sudah punya.

Setting receiver dan MUX

Perkembangan penyiran televisi teresterial, mungkin yang paling menyolok hanyalah saat televisi hitam putih menjadi pilihan televisi warna, tetapi sesungguhnya teknologinya tetap analog, dengan demikian pergantian menjadi teknologi penyiran digital tersterial ini tentu saja benar-benar menjadi tonggak bersejarah yang sangat penting bagi dunia televisi teresterial.

yang kiri analog, yang kanan digital

Tetapi memang masyarakat harus sabar sementara waktu berhubung SET TOP BOX (STB) yang digunakan sebagai receiver penangkap siaran televisi digital teresterial belum tersedia di pasaran saat ini. Pemerintah berencana membagikan gratis STB ini secepatnya.

tanya jawab seputar tv digital gratis lewat pemancar

Berikut ini saya mencoba untuk merangkum beberapa pertanyaan dan jawaban seputar televisi digital teresterial yang sudah mulai siaran di beberapa kota. Semoga berguna.

TV yang kiri belum bisa menerima siaran digital, TV yang kanan sudah menerima siaran digital DVB-T2, dengan tambahan STB yang terlihat di dekat kaki meja bagian kanan diatas tumpukan buku.

T : Apakah tv digital ini gratis?

J : Gratis, alias free to air, yang  berbayar juga ada, contohnya next media

T : Mengapa siaran TV analog diganti dengan siaran TV Digital?

J : Agar penonton di rumah bisa menonton TV dengan kualitas video audio yang lebih baik dan makin banyak saluran TV yang bisa dipilih, bisa sampai 72 saluran TV di tiap kota.

T : Apakah TV lama dengan antena lama masih bisa dipakai

J : TV lama masih bisa disetel sebagaimana biasa untuk melihat siaran tv analog sampai pemancar analog di MATIKAN tahun 2017.

T : Apakah tv lama dengan antena lama bisa dipakai untuk melihat siaran TV digital DVB-T2?

J : Bisa, dengan cara diberi tambahan alat penerima siaran DVB-T2 yang disebut SET TOP BOX (STB).

T : Dimana bisa beli STB?

J : untuk STB DVB-T2, saat saya menulis ini belum banyak dijual umum di indonesia, bahkan hampir bisa dikatakan belum ada yang jual. Tunggu sekitar sebulan dua bulan atau tahun 2013 awal mungkin sudah banyak tersedia.

T : Berapa harga STB

J : Harga STB dikisaran Rp. 100.000 yang paling murah dengan fitur paling minim.

T : Apakah jika saya beli TV baru sekarang ini sudah ada DVB-T2 receivernya?

J : Yang saya tahu di Indonesia belum banyak (jika boleh dibilang belum ada) merek terkenal TV yang sudah include DVB-T2 receiver, jika yang DVB-T saja sepertinya sudah ada.

T : Bisakah TV yang sudah DVB-T untuk menangkap siaran TV digital DVB-T2?

J : Tidak Bisa! Harus yang DVB-T2 receiver untuk menangkap siaran DVB-T2.

Jika ada pertanyaan pertanyaan lain, nanti akan saya jawab dan saya tulis disini sebagai tambahan agar lengkap. Terimakasih.

inilah alat yang harus dibeli untuk bisa menangkap siaran tv digital gratis DVB-T2

Setelah searching di mbah google, saya mendapat beberapa hasil, yang pertama adalah ini

http://www.geniatech.com/pa/android-tv.asp

harus ada keterangan seperti ini kalau mau beli, terutama yang DVB-T2

yang kedua adalah ini :

tinggal colokin ke USB komputer/laptop

Sepertinya para pedagang belum yakin dengan keputusan pemerintah, hai pedagang ayo cepetan kulakan STB yang DVB-T2, iklanin di blog saya juga boleh 😀

Ini tv digital DVB-T2 sudah on air tapi masih sulit mencari STB nya.

Network Provider tv digital teresterial Zona layanan 6 (Jawa Tengah dan Yogyakarta)

Saya fokuskan untuk menulis Zona 6 yaitu area Jogja dan Jateng yang digabung menjadi satu, karena tempat kerja saya di area 6 ini, yaitu di pemancar TV di Jogja bertempat di Bukit Patuk GunungKidul. Sekarang ini saat masih tv analog, Jateng dan DIY terdiri beberapa zona mengingat ada interferensi yang diakibatkan masih memakai teknologi pemancar analog,

Sebelumnya marilah kita membaca pengumuman dari kominfo disini :

http://kominfo.go.id/berita/detail/3389/Ini+Seleksi+Kominfo+Tentang+Penyiaran+TV+Digital+di+5+Zona+

Jadi pemenang Zona layanan 6 (Jawa Tengah dan Yogyakarta) adalah :
1. PT GTV Dua (Global TV),

2. PT Indosiar Televisi Semarang (Indosiar Semarang),

3. PT Lativi Mediakarya Semarang-Padang (TVOne Semarang),

4. PT Media Televisi Semarang (Metro TV Jawa Tengah),

5. PT Trans TV Semarang  Makassar (TransTV Semarang).

6. yang keenam sepertinya TVRI, jadi tidak perlu dilelang 😀

Pada era tv digital memang tidak ada tv nasional, adanya tv lokal, sehingga bisa dilihat diatas contoh pemenang kedua adalah Indosiar Semarang.

Lhoh kok cuma ada 6 pemenang dengan TVRI? Lantas apa ini artinya? Artinya adalah untuk wilayah Jateng DIY, besok saat teknologi digital teresterial-free to air digelar, hanya ada 6 tower atau 6 stasiun pemancar tv digital sebagaimana diatas. Lho piye iki kok malah cuma ada 6 tower? malah jadi sedikit dong? Tenang… karena ini memakai teknologi digital yaitu DVB-T2, maka untuk satu tower pemancar, bisa memancarkan 12 konten tv sekaligus. Jadi besok maksimal akan ada 6 tower dikalikan 12 konten tivi = ada 72 konten tv digital yang bisa kita nikmati dirumah kita dengan gratis. Padahal di Jogja saat ini ada 10 tower yang memancarkan 14 tv sebagai berikut :

1. Transtv

2. tvOne

3. jogjatv

4. TVRI

5. indosiar

6. SCTV

7. MNC (satu tower untuk RCTI+MNCTV+GLOBALTV+ADITV)

8. antv

9. trans7 (satu tower untuk trans7 dan kompastv)

10. metrotv

Karena besok hanya ada 6 tower saat digital, maka akan ada 4 tower tidak digunakan, dan kira kira yang akan tidak dipakai lagi adalah sebagai berikut :

1. SCTV (karena satu grup dengan indosiar)

2. antv (karena satu grup dengan tvOne)

3. trans7 (karena satu grup dengan transtv)

4. jogjatv

Untuk MNCjogja tidak menjadi masalah, karena dari awal sudah satu tower digunakan bersama oleh RCTI, GlobalTV, MNCtv dan ADItv. Menjadi masalah bagi yang satu grup tapi punya dua tower, misal seperti ANTV dan tvOne, pastilah harus dipilih salah satu tower dan lokasi pemancar yang paling baik dari keduanya. Kebetulan untuk Jateng DIY yang menang adalah tvOne, maka wajar bila pemancar digitalnya besok ditaruh di  tvOne, begitu pula dengan grup yang lain.

Aturan dari menteri kominfo adalah maksimal hanya 3 slot yang dipakai sendiri oleh pemilik pemancar, yang 9 harus disewakan kepada tv lain, walaupun mungkin itu tv kompetitor. Ini untuk menghindari monopoli.

http://kominfo.go.id/berita/detail/3399/Menkominfo%3A+Siaran+TV+Digital+Bakal+Anti+Monopoli

Baiklah sekarang kita melangkah ke kanal frekuensi yang bakal dipakai tv digital teresterial.

http://kominfo.go.id/siaran_pers/detail/999/Siaran+Pers+No.+60-PIH-KOMINFO-8-2011+tentang+Uji+Publik+RPM+Master+Plan+Frekuensi+Radio+Untuk+Digital+Teresterial+Pada+Pita+478-694+MHz+

Beberapa hal penting yang diatur dalam RPM ini adalah sebagai berikut:

  1. Pita frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial adalah 478 – 694 MHz dan digunakan untuk keperluan: penyiaran televisi siaran digital terestrial masa depan ( future plan ) pada rentang frekuensi 478 – 526 MHz ; dan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) pada rentang frekuensi 526 – 694 MHz.
  2. Setiap penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) wajib memenuhi ketentuan teknis sebagai berikut: rasio proteksi ( protection ratio ) sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini; dan kuat medan ( field strength ) pada lokasi titik pengujian/pengukuran di setiap wilayah layanan dibatasi maksimum 42,6 dbµV/m.
  3. Penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di setiap wilayah layanan wajib mengikuti pemetaan kanal frekuensi radio.
  4. Penetapan kanal frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di wilayah layanan yang cakupannya dapat menjangkau negara lain dilakukan berdasarkan koordinasi antara Direktorat Jenderal dengan administrasi telekomunikasi negara yang terkait.
  5. Penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) di suatu daerah yang tidak tercakup oleh wilayah layanan manapun dapat menggunakan Gap Filler pada kanal 46 (670-678 MHz), kanal 47 (678-686 MHz) dan/atau kanal 48 (686-694 MHz).
  6. Penggunaan frekuensi radio untuk keperluan penyiaran televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) dapat menerapkan teknik Single Frequency Network (SFN) pada kondisi sebagai berikut: pada wilayah layanan tertentu sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini; atau pada suatu daerah di satu wilayah layanan yang tidak mendapatkan sinyal dengan kualitas baik ( blank spot) .
  7. Setiap alat dan perangkat radio yang digunakan untuk keperluan televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) wajib mendapat sertifika t alat dan perangkat radio dari Direktur Jenderal.

Untuk satu area layanan tv digital teresterial, diputuskan hanya 6 kanal frekuensi, sedangkan frekuensi yang disediakan adalah

Band IV :    

Nomor

Batas Frekuensi

Frekuensi Tengah

Kanal

(MHz)

(MHz)

1

22

478 – 486

482

2

23

486 – 494

490

3

24

494 – 502

498

4

25

502 – 510

506

5

26

510 – 518

514

6

27

518 – 526

522

7

28

526 – 534

530

8

29

534 – 542

538

9

30

542 – 550

546

10

31

550 – 558

554

11

32

558 – 566

562

12

33

566 – 574

570

13

34

574 – 582

578

14

35

582 – 590

586

15

36

590 – 598

594

16

37

598 – 606

602

Band V :

17

38

606 – 614

610

18

39

614 – 622

618

19

40

622 – 630

626

20

41

630 – 638

634

21

42

638 – 646

642

22

43

646 – 656

650

23

44

656 – 662

658

24

45

662 – 670

666

25

46

670 – 678

674

26

47

678 – 686

682

27

48

686 – 694

690

Penyiaran televisi digital teresterial menggunakan teknologi DVB-T2 dengan teknik SNF (single network frequency), sehingga nantinya untuk Jateng DIY misal sebagai contoh tvOne andaikan dapat kanal 35, maka seluruh Jateng DIY, semua pemancar digital tvOne memakai kanal frekuensi tersebut. Apakah tidak interferensi? Karena sudah digital dan menggunakan teknik OFDM (orthogonal frequency division multiplexing) yang bisa multi carrier system dengan membagi lebar bidang frekuensi yang tersedia (8Mhz) kedalam beberapa frekuensi yang lebih kecil, lalu data ditransmisikan secara pararel, sehingga bisa mengatasi masalah interferensi.

Untuk mengkover Jateng DIY diperlukan beberapa titik pemancar yaitu : Jogja, Purworejo, Magelang, Semarang, Pati, Brebes, Blora, Cepu, Purwokerto. Mirip sekali dengan network planning untuk telepon selular, bedanya kalau untuk selular menggunakan CDMA dan TDMA (gsm), kalau tv digital menggunakan OFDM.

Berikut ini perkiraan saya pribadi untuk pembagian frekuensi untuk tiap tiap daerah, karena saya cari cari master plan SNF nya belum juga saya temukan. kebetulan dulu skripsi saya tentang OPTIMALISASI JARINGAN GSM, jadi sedikit-sedikit saya paham tentang frequency planning.

Misal Untuk Jakarta dan Banten adalah : 22, 26, 30, 38, dan 42 masing-masing pemancar digital akan terpisahkan oleh 3 kanal frekuensi, agar mereduksi kemungkinan interferensi antar pemancar (mohon maaf ilmu saya benar-benar belum mendalam tentang OFDM dan SNF ini)

Jakarta

Jateng

Jabar

Jatim

1

22

33

24

25

2

26

27

28

29

3

30

31

32

33

4

34

35

36

37

5

38

39

40

41

6

42

43

44

45

Lantas bagaimana dengan para pemirsa nantinya saat tv digital ini digelar? Tidak masalah karena pemancar tv analog juga masih hidup, sampai nanti ditentukan MATI (cutt off) jika suatu area sudah siap 100% perangkatnya menerima tv digital. Nantinya kalau saya tidak salah, akan ada pembagian SET TOP BOX semacan konverter untuk dipasang pada tv dirumah yang masih analog agar bisa menerima pancaran tv digital. Letak SET TOP BOX (STB) ini ada di antara colokan antena dan TV analog. jadi colokan ujung kabel antena nanti masuk ke STB, lalu keluaran dari STB masuk ke colokan antena di TV. Tidak merubah apapun, baik tv maupun antena. Cukup tambahkan alat STB ini maka bisa menonton siaran tv digital.

Jika akhir tahun 2012 tv digital sudah benar-benar digelar di Jogja dan Jateng, maka logikanya tahun 2013 mulai dijual tv yang sudah ready untuk menerima siaran tv digital, harusnya tv analog tidak laku lagi.

Akhirnya selamat datang era tv digital di indonesia, Jateng dan Jogja khususnya.

Lampiran

http://web.kominfo.go.id/sites/default/files/Permen%20Masterplan%20Frekuensi%20Untuk%20Digital.pdf

EDP Macvision Borobudur TV di KPID DIY

image

image

saat saya tahu bahwa tv berlangganan PT. MBS (mediatama citra borobudur) ini memakai teknologi digital teresterial DVB-T MPEG-4, maka saya langsung kaget dan terbuka wawasan saya, dan komentar saya adalah tv ini NYOLONG START planning tv digital untuk free to air yang rencananya akan digelar oleh tv-tv existing dari Jakarta yang sudah lama siaran di Jogja pada tahun 2014 untuk kota besar, dan pada tahun 2018 untuk cut off siaran analog, karena semua tv teresterial free to air sudah wajib digital semua.

Jika EDP (evaluasi dengar pendapat) di KPID DIY ini nantinya berbuah disetujuinya pemberian frekuansi UHF untuk PT MBS, maka agak aneh juga, meskipun ada embel-embelnya berlangganan dan berbayar, kenapa tidak mendorong yang sudah existing untuk siaran digital teresterial terlebih dahulu, karena teknologi yang dipakai memang sama persis, yaitu DVB-T.

Yang masih menjadi pertanyaan besar saya adalah, bahwa macTV ini besok bisa mengusung 40 program kepada pelanggan, padahal setahu saya satu kanal frekuensi yang sekarang hanya dipakai oleh satu pemancar TV, saat digital nanti maksimal hanya bisa untuk 8 program siaran bersama. Saya belum tahu teknologi untuk satu kanal frekuensi bisa 40 program sekaligus. Atau nantinya pakai 5 kanal frekuensi VHF sehingga 5 X 8 = 40 program siaran bersama. Maaf saya belum pahan hal ini, dan kemarin saat saya tanyakan hal ini, jawabannya juga belum bisa saya pahami. Kalau memang bisa seperti itu, di Jogja cukup satu kanal frekuensi, maka 14 TV yang sekarang siaran teresterial analog bisa siaran bareng dalam satu tower satu antena, satu gedung sehingga bisa “membuang” 13 tower beserta karyawannya sekaligus. Irit kan. Apa iya seperti itu, rasanya kok tidak.

Dari pemaparan kemarin dari PT MBS, bahwa langganan untuk mactv ini adalah Rp. 85.000 per bulan dengan diberi pinjaman SET TOP BOX yang ada smart card nya sehingga tanpa smartcart tersebut tidak bisa menerima siaran mactv. Set Top Box ini fungsinya menerima siaran digital lalu outputnya jadi analog lagi sehingga bisa dimasukkan ke tv penerima milik kita yang lama yang kebanyakan masih analog. Jadi tidak perlu beli tv penerima yang baru untuk langganan mactv ini.

Saya tidak tahu sampai saat ini apakah langganan harus kontrak minimal 1 tahun atau bagaimana, tapi jika memang misal kontrak setahun, saya kira STB sebenarnya juga sudah diperhitungkan harganya. Misal harga STB Rp. 300.000 maka bisa dihitung sebulan Rp. 25.000 utnuk mengangsur selama 12 bulan, jadi saat setahun berhenti langganan, sebenarnya juga sudah BEP untuk STB. Sehingga biaya langganan sebenarnya adalah Rp. 60.000 saja perbulan. Apakah tidak mungkin nantinya bisa saja mactv ini “atas desakan dari masyarakat” terus berubah jadi free to air, toh mereka bisa sisipiniklan di tiap acara, masyarakat juga bisa puas melihat dan memilih 40 program yang ada. Bisa jadi.
image

Selengkapnya klik disini Continue reading

%d bloggers like this: