Test harian CB650F, ternyata enak banget

image

Andaiiii

Saya pertama kali testride CB65OF di Purwokerto, saat launching CBR150R 2016, tepatnya di pelataran GOR SATRIA, waktu itu sekadar muter muter saja, dan ternyata moge ini mudah dikendalikan saat kita terpaksa harus pelan pelan. Karena naik moge dengan cepat, itu pasti enak, tapi naik moge pelan tapi tetap enak, itu baru istimewa.

Akhirnya setelah balik ke jogja saya meminjam ke Astra Motor di Jombor selama satu minggu, mulai 18 April 2016 sampai 25 April 2016.

Niat saya dari awal saat meminjam CB650F ini adalah untuk membuktikan apakah moge ini bisa saya pakai harian untuk kerja.

Syarat utama motor lolos untuk harian kerja, bagi saya adalah motor tidak membuat badan saya lelah. Ini karena saya PP sekitar 80 KM tiap harinya.

Motor ini kalau saya tidak salah, seharga avanza veloz terbaru, yang spek paling tinggi, itupun masih sisa sedikit, artinya masih lebih mahal motor ini. Jadi saya was was juga ketika pertama kalinya benar benar memakai motor ini, yang karena itu bukan untuk sekedar testride semenit dua menit.

Tentu saja saya sudah pengalaman memakai motor besar dan berat, tapi dengan kapasitas mesin yang kecil, yaitu BLACK COYOTE saya, rasanya hampir sama beratnya kedua motor ini, sehingga saat menuntun CB650F, saya pastikan pinggang kanan menempel di jok, motor agak miring kekiri sedikit, ini untuk menjaga agar motor tidak miring ke kanan, yang tentu saja akan ambruk ke kanan karena pasti motor seberat ini tidak akan cukup tenaga untuk menahannya.

Saya sudah menyiapkan safety shoes jadul saya merek kings untuk mengendarai CB650F ini, juga sarung tangan dan jaket respiro berprotektor pada lengan dan punggung, tidak lupa helm NHK full face baru. Semua perlalatan ini wajib dikenakan jika mau mengendarai CB650F.

Saya pernah dua kali jatuh kepleset memakai pulsar saat menapak di pinggiran jalan yang ternyata berkerikil, saya pastikan hal konyol seperti ini saya ingat dan saya tidak ingin terjadi saat mengendarai CB650F.

Tinggi badan saya adalah 176 cm, dengan memakai safety shoes, kedua kaki saya bisa menapak di kiri kanan, alias pas banget, tidak menggantung, tidak dingklik detected.

Pertama kalinya jalan jauh dari Astra Motor Jombor di Jalan Magelang menuju kantor saya di Patuk Gunungkidul, waktu sudah habis maghrib ketika saya mulai start. Saya hanya memikirkan untuk memakainya dengan pelan pelan, mencoba memahami dan merasakan karakter mesin, juga pengereman.

image

Double disk dan ABS

image

Rem belakang

CB650F ini perangkat pengereman depan adalah double disk dan tentu saja sudah ABS. Untuk sektor belakang juga diskbrake. Jadi pengereman mumpuni.

Lucu juga saat naik dari Bangjo Piyungan ke Patuk, saya disalip motor matic, dan saya mengerem hati saya untuk membetot gas, saya ingatkan diri saya bahwa saat ini saya masih tahap OSPEK memakai CB650F ini.

image

Stiker pengingat untuk memakai helm, sepatu dan sarung tangan

Desain CB650F ini menurut saya, sederhana dan fungsional, bukan pamer desain yang aneh aneh dengan mesin ala kadarnya. Tapi basic desainnya menurut mata awam saya adalah menyuguhkan indahnya knalpotnya yang ada empat, dan lengan ayun belakang yang kekar tapi manis. Jadi saya maklum jika tidak banyak orang yang melirik dan melihat dengan mata heran saat saya pakai jalan biasa kecepatan 50-60 kpj, beda dengan motor 250cc dua silinder yang saya juga pernah pakai selama seminggu, alamak anak anak SD SMP menatap penuh rasa senang dan harap, mungkin teringat tokoh sinetron yang lagi digandrunginya. Ironi.

Biasanya saat mau berhenti di lampu merah, saya bleyer sedikit, untuk membuat sensasi dengan suara khasnya. Lalu saya nikmati pandangan heran orang orang disekitar saya, terutama yang di belakang. Mungkin dikira motor modifan.

Saat lampu hijau menyala, saya biasanya pelan dulu sampai di titik aman yaitu telah melewari garis tengah perempatan, lagi lagi ini karena pengalaman dulu pernah di baris pertama langsung tarik gas, ternyata ada becak nylonong, saya rem pulsar saya sampai oleng dan roboh. Jadi mulai saat itu saya di lampu hijau pasti pelan pelan dulu, biarkan orang lain yang ada di depan, dan enaknya pakai CB650F ini, saya bisa langsung ngacir hanya pakai gigi dua yang bisa saya geber sampai 110 an KPJ, tapi biasanya sebelum sampai angka tersebut, jalanan di depan sudah krodit, akhirnya tuas gas dikendurkan demi keamanan semuanya.

Saya yang terbiasa pakai PCX yang knalpotnya nyaris tak bersuara, jadi sangat cocok dengan suara knalpot CB650F yang juga halus untuk ukuran moge, hanya suara mendesing yang khas dan itu saya suka. Bisa dikata CB650F ini adalah Si cepat yang senyap.

Hari kedua saya memakai CB650F, saya ambil rute dari rumah ke arah bangjo Sedayu, lalu keselatan menuju Palbapang Bantul, dan terus ke timur melewati BANGJO BAKULAN jalan Paris, terus ketimur sampai Imogiri dan naik menuju HUTAN PINUS MANGUNAN, lalu lanjut ke arah Patuk Gunungkidul dan finish di kantor saya. Saya hapal jalan Bangjo Sedayu sampai Palbapang ini jalannya lebar dan aspalnya mulus, trimakasih untuk pemda Bantul.

Tujuan saya tercapai di jalanan Bantul yang mulus ini, saya bisa sedikit lari, dan saya lupa apakah pernah pakai gigi 4 atau hanya gigi 3 saja. Jelas gigi 5 dan 6 belum pernah saya pakai. Kecepatan 100 kpj sangat mudah dicapai dalam hitungan detik, menyenangkan.

Saya pernah ke arah Purworejo lewat Godean kebarat naik menoreh dan tembus Kaligesing, heran papasan dengan moge moge adventure, versys kalau saya tidak salah lihat, yang ngebut di jalanan naik turun dengan enaknya, dan baru sekarang ini saya menyadari bahwa mereka itu tidak ngebut, karena bagi mesin moge, percayalah bahwa jalan naik itu tidak ada bedanya dengan jalan datar, karena tenaganya dibetot tidak habis, tidak ada kamus pakai moge saat ketemu jalanan naik extrim jadi lelet, sama sekali tidak. Itulah yang saya rasakan saat naik dari Imogiri ke Hutan Pinus Mangunan. Serasa semua jalan adalah datar saja. Bahkan saya sempat standing tanpa sadar saat naik menyalip mobil dan terlalu kuat membetot tuas gas.

Yang lucu saat naik CB650F ini adalah saat jalan santai 50-60 kpj, tiba tiba ada gronjalan di jalan, otomatis tangan kanan jadi narik gas, dan motor bisa melaju tidak sesuai dengan keinginan. Ini karena memang tuas gas sangat sangat tipis, artinya ditarik tipis saja sudah lari. Saat sudah menyatu dan menguasai motor ini, menyalip mobil atau motor di depan sangatlah menyenangkan, yang itu karena tidak bisa saya lakukan jika pakai motor 150 cc, karena tidak yakin bisa lari dan menyalip dengan tepat dan cepat. Pokokke CB650F di gas sithik njepat, WIIINGGGG.

Okelah sementara ini dulu ceritanya, dari saya penunggang awam yang benar benar awam mesin motor.

image

image

image

image

image

3.418 KM, saat pertama saya pinjam

image

image

Helm, jaket, sarung tangan, safety shoes. Wajib dipakai.

image

Sampai juga di kantor dengan selamat

%d bloggers like this: